Gibran

Gibran Ajak Santri Tingkatkan Kompetensi AI dan Robotik untuk Masa Depan

Gibran Ajak Santri Tingkatkan Kompetensi AI dan Robotik untuk Masa Depan
Gibran Ajak Santri Tingkatkan Kompetensi AI dan Robotik untuk Masa Depan

JAKARTA - Santri kini semakin dekat dengan teknologi modern berkat pelatihan artificial intelligence (AI) dan robotik di pondok pesantren. 

Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming, meninjau langsung program ini di Pondok Pesantren Baitul Arqom Al-Islami, Kabupaten Bandung. Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung adaptasi teknologi dalam proses pembelajaran pesantren.

Program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transformasi digital di semua jenjang pendidikan. Gibran menekankan agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga kemampuan teknologi. Hal ini menjadi bekal penting menghadapi era industri 4.0 dan persaingan global.

Gibran Amati Langsung Proyek Robotik Santri

Dalam kunjungan tersebut, Gibran meninjau proyek robotik yang tengah dikembangkan para santri. Beberapa robot dibuat untuk kebutuhan praktis, seperti robot pengalir air wudhu, hingga robot untuk kompetisi teknologi. 

“Ini tadi kita sudah meninjau beberapa murid yang sedang belajar membuat robot dan juga belajar AI. Tadi ada robot untuk mengalirkan air wudhu secara otomatis, ada robot yang bisa berjalan dengan dua kaki, robot sumo dan robot pemain bola yang bisa dikompetisikan,” ujar Gibran.

Ia juga meninjau santriwati yang mempelajari pemanfaatan AI menggunakan perangkat digital. “Tadi santriwati juga belajar AI. Saya tekankan pentingnya santri dan santriwati untuk mengikuti perkembangan zaman. Kalau santri akhlaknya baik, ngajinya baik, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa menguasai teknologi-teknologi terkini seperti AI dan robotik,” katanya.

Pengenalan teknologi di pesantren diharapkan membangun kreativitas sekaligus kemampuan problem solving. Para santri dapat melihat langsung aplikasi AI dalam kehidupan sehari-hari. Robotik dan AI juga menjadi sarana melatih inovasi sejak dini.

Pembelajaran Teknologi Bukan Untuk Semua Jadi Programmer

Gibran menegaskan, tujuan pengenalan teknologi bukan menjadikan seluruh santri programmer. Fokus utamanya adalah melatih cara berpikir kritis dan inovatif. “Coding itu melatih anak-anak muda untuk berpikir kritis, critical thinking, dan berpikir komputasional. Ini penting sekali karena ke depan persaingan akan semakin ketat. Saya tidak ingin santri-santriwati di pondok ini ketinggalan,” bebernya.

Menurutnya, proyek robotik yang dikembangkan masih tahap dasar. Namun potensi pengembangannya cukup besar jika terus diasah. “Yang dipelajari tadi masih basic-basic (dasar), tapi ini bisa dikembangkan lagi. Robot-robot seperti ini setiap tahun ada kompetisinya, jadi inovasinya bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.

Penerapan pembelajaran teknologi di pesantren memberikan bekal praktis sekaligus meningkatkan kepercayaan diri. Santri belajar menerapkan teori dalam bentuk nyata. Pendekatan ini mendorong semangat inovasi sejak dini.

Guru Didorong Terus Perbarui Pengetahuan Teknologi

Gibran juga memberikan pesan kepada para guru agar tidak ketinggalan dari muridnya. Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan guru harus adaptif. “Perkembangan teknologi ini sangat cepat. Guru tidak boleh ketinggalan dari muridnya,” ucapnya.

Pengasuh pondok, Najib Muhammad Yusuf, menambahkan bahwa integrasi teknologi modern dan nilai keislaman dapat berjalan bersamaan. “Integrasi teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman di pesantren dapat dilakukan tanpa menghilangkan ruh pendidikan pesantren. Kuncinya adalah menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan dakwah,” ujarnya.

Santri tetap mempelajari kitab kuning sebagai kurikulum utama. Namun dukungan teknologi digital seperti PDF, kamus digital, dan perangkat pembelajaran berbasis smart TV membuat proses belajar lebih interaktif. Teknologi menjadi alat pendukung, bukan pengganti nilai tradisional pesantren.

Santri Antusias Ikuti Pembelajaran AI dan Robotik

Respon santri terhadap pembelajaran AI sangat positif dan antusias. Mereka sudah mulai mempraktikkan ilmu yang dipelajari dalam bentuk kreatif, misalnya membuat video muhadatsah bahasa Arab dengan animasi 3D. “Alhamdulillah, respon santri terhadap pembelajaran AI sangat baik dan mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran tersebut. Salah satu pemanfaatannya misalnya membuat video muhadatsah bahasa Arab dalam bentuk animasi 3D,” jelas Najib.

Teknologi AI juga mendukung pengembangan dakwah pesantren secara digital. Santri dapat menyebarkan ilmu dengan cara yang lebih menarik dan modern. Pemanfaatan ini diharapkan meningkatkan kemampuan komunikasi dan kreativitas mereka.

Pemerintah diharapkan terus mendorong pengenalan teknologi di pesantren. Dukungan ini dapat memperluas akses pendidikan sekaligus mengembangkan kualitas santri. AI dan robotik menjadi sarana strategis dalam mempersiapkan generasi unggul di era digital.

Harapan dan Arah Transformasi Pendidikan Pesantren

Integrasi teknologi harus tetap selaras dengan nilai-nilai pesantren. Guru dan pengasuh menjadi kunci dalam menyeimbangkan kurikulum tradisional dan modern. Santri belajar membaca kitab kuning sekaligus memahami aplikasi teknologi.

Peningkatan kapasitas ini mempersiapkan santri menghadapi dunia kerja dan inovasi teknologi. Pembelajaran berbasis AI dan robotik juga membuka peluang lomba dan kompetisi. Dengan begitu, kualitas sumber daya manusia di pesantren meningkat tanpa meninggalkan nilai agama.

Pemerintah mendorong agar pengalaman ini menjadi model bagi pesantren lain. Transformasi digital di pesantren diharapkan terus berkembang. Santri mampu bersaing sekaligus berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index