Jakarta - Dalam upaya memperkuat posisi di pasar global dan mempromosikan pembangunan ekonomi berkelanjutan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah resmi menjalin kerja sama strategis dengan Northern Territory (NT) Australia. Kerja sama ini berfokus pada pengembangan rantai pasok mineral kritis, di mana Indonesia berpotensi untuk memainkan peran vital, Jumat, 21 Februari 2025.
Kolaborasi antara Indonesia dan NT Australia ini selaras dengan kebutuhan mendesak untuk diversifikasi pasokan mineral. Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arie Havas Oegroseno, menyebutkan bahwa diversifikasi kemitraan tidak hanya perlu dilakukan dengan negara secara keseluruhan, tetapi juga mencakup negara bagian yang memiliki kapasitas signifikan di industri mineral kritis.
"Nota Kesepahaman antara ESDM dan NT Australia ini diharapkan dapat menjadi model bagi Pemerintah Indonesia untuk menjalin kemitraan serupa dengan negara bagian strategis lainnya di Australia," kata Arie Havas Oegroseno.
Fokus utama dari kerja sama ini adalah membangun keseimbangan antara prioritas ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang baru saja disahkan. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa kebijakan mineral dan batubara Indonesia bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan kerja.
"Prioritas kami adalah mendukung pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, dengan fokus pada penelitian, inovasi, dan eksplorasi untuk memperkuat ketahanan cadangan mineral," ungkap Dadan pada acara Sosialisasi Nota Kesepahaman Rantai Pasok Mineral Kritis dan Strategis yang berlangsung pada Selasa, 18 Februari 2025.
Dekarbonisasi industri pertambangan menjadi agenda penting dalam kerja sama ini. Dadan menyatakan bahwa adopsi energi terbarukan, elektrifikasi operasi pertambangan, dan implementasi teknologi mutakhir adalah langkah-langkah konkret menuju keberlanjutan. "Kami berkomitmen untuk melaksanakan praktik-praktik yang mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem alam," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan, Bisnis, dan Hubungan Asia Northern Territory Australia, Robyn Cahill, berharap kemitraan strategis ini dapat segera diwujudkan melalui aksi nyata baik di tingkat industri maupun pemerintah. "Potensi sumber daya kami terus berkembang setiap hari, dengan penemuan cadangan dan peluang baru, terutama di sektor mineral kritis. Banyak organisasi dan bisnis menunjukkan minat untuk berinvestasi di wilayah kami karena peluang yang signifikan ini," tegas Cahill.
Nota Kesepahaman Rantai Pasok Mineral Kritis dan Strategis telah ditandatangani pada 12 November 2024. Rencana implementasi mencakup Roadshow Mineral Indonesia-NT Australia yang akan diadakan pada April 2025. Dalam acara ini, perusahaan-perusahaan pertambangan Indonesia dijadwalkan mengunjungi Northern Territory, Australia. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan kunjungan ke Sulawesi (Sorowako dan Morowali) atau Maluku (Teluk Weda) pada Mei 2025.
Selain itu, tahun 2025 juga akan menjadi tahun penting untuk studi dan pengembangan bersama dalam hal eksplorasi teknologi pengolahan dan pemurnian, yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Pengembangan keahlian dan pelatihan juga akan menjadi fokus dengan pembentukan program pendidikan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Acara sosialisasi kemitraan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri RI Arie Havas Oegroseno, Menteri Perdagangan, Bisnis dan Hubungan Asia Northern Territory Australia Hon Robyn Cahill, serta para pemangku kepentingan di bidang pertambangan di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal menuju hubungan yang lebih erat dan berkelanjutan antara Indonesia dan Northern Territory Australia di bidang mineral.