PT Freeport Indonesia

Penyelidikan Lengkap Kebakaran Smelter PT Freeport Indonesia: Kementerian ESDM Sampaikan Temuan Utama

Penyelidikan Lengkap Kebakaran Smelter PT Freeport Indonesia: Kementerian ESDM Sampaikan Temuan Utama
Penyelidikan Lengkap Kebakaran Smelter PT Freeport Indonesia: Kementerian ESDM Sampaikan Temuan Utama

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merilis hasil investigasi komprehensif mengenai insiden kebakaran di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Tri Winarno menyebutkan bahwa penyelidikan ini mengungkapkan empat poin temuan krusial yang memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab kebakaran tersebut, Kamis, 20 Februari 2025.

Empat Fakta Utama Hasil Investigasi

1. Kerusakan Berat pada WESP
Tri Winarno menjelaskan bahwa seluruh komponen material dari Wet Electrostatic Precipitator (WESP) mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat dioperasikan. Komponen ini merupakan bagian vital dalam proses pemurnian, yang artinya gangguan di sini dapat berakibat serius pada operasional smelter.

2. Langkah Barikade Pascakebakaran
Setelah api menyala sekitar pukul 17.45 WIB, pihak terkait langsung bertindak cepat dengan melakukan barikade di area terdampak. Langkah ini ditujukan untuk meminimalkan risiko penyebaran api dan memastikan keamanan para pekerja.

3. Kesaksian dan Saksi Mata
Berdasarkan investigasi, ditemukan kesaksian dari sejumlah saksi, baik langsung maupun tidak langsung, yang memberikan informasi penting terkait detik-detik terjadinya kebakaran. "Fakta lain terdapat indikasi adanya hotspot dan gangguan teknis pada alat sebelum pemadaman terjadi," ungkap Tri dalam rapat dengan Komisi XII pada Rabu, 19 Februari 2025.

4. Bahaya yang Ditimbulkan
Dari kajian tersebut, Ditjen Minerba menyimpulkan bahwa kebakaran ini merupakan kejadian serius dan berbahaya. Temuan ini sejalan dengan Keputusan Menteri ESDM nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang pedoman pelaksanaan kaidah teknik pertambangan yang baik, yang memperingatkan pentingnya langkah preventif untuk mencegah kecelakaan serupa.

Delapan Tindak Lanjut dan Korektif untuk PTFI

Sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko di masa mendatang, Ditjen Minerba menetapkan delapan tindakan korektif yang harus segera dilakukan oleh PTFI:

1. Analisis Kebutuhan Teknis
PTFI diinstruksikan untuk mengevaluasi kebutuhan pemasangan pengatur suhu atau detektor baru guna mencegah kebakaran serupa, serta memasang kamera pemantau di area WESP.

2. Penjadwalan Ulang Start-Up Feeding
Perusahaan perlu memastikan adanya pengawasan teknis dan operasional yang optimal saat commissioning peralatan dengan menjadwalkan start-up feeding secara lebih tepat.

3. Penggunaan Sistem Pemadam Api Otomatis
Analisis lebih lanjut diperlukan untuk mempertimbangkan pemasangan sarana pemadam api otomatis atau sprinkler di sekitar WESP.

4. Pengembangan Alat Troubleshooting
PTFI harus mengembangkan perangkat atau instrumen troubleshooting yang dapat menangani kondisi darurat secara cepat dan efisien.

5. Pemasangan Alarm Darurat
Diperlukan pemasangan alarm indikasi kondisi darurat di control room serta tombol aktivasi darurat di lapangan.

6. Studi dan Implementasi HAZOP
Penggunaan referensi Hazard and Operability Study (HAZOP) dari perusahaan lain yang memiliki kemiripan dalam teknologi dan operasional dilakukan untuk memperkuat sistem keamanan.

7. Assessment Manajemen Risiko
Investigasi lebih dalam oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur akan membantu menentukan akar penyebab insiden melalui assessment manajemen risiko baik internal maupun eksternal.

8. Penyederhanaan Sistem dan Prosedur
Menyederhanakan sistem dan prosedur manajemen keselamatan selama masa transisi agar implementasi keselamatan menjadi lebih efektif dan terintegrasi.

Investigasi Gabungan dan Justifikasi Asuransi

Proses investigasi ini melibatkan kerjasama antara Ditjen Minerba, PTFI, serta Tim Bareskrim Polri. "Sudah keluar hasilnya. PTFI juga telah memberikan justifikasi bahwa seluruh kerusakan akan diganti total oleh asuransi," kata Tri.

Langkah-langkah perbaikan yang diambil menunjukkan komitmen pemerintah dan perusahaan untuk meningkatkan keselamatan di masa depan. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk terus meningkatkan standar keamanan operasional industri ekstraktif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index