Jakarta – Pasar modal di Sulawesi Tengah mencatatkan pertumbuhan yang mengesankan pada tahun 2024, dengan transaksi mencapai angka fantastis sebesar Rp9 triliun. Peningkatan ini menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan dengan realisasi transaksi tahun 2023 yang hanya mencapai Rp7 triliun. Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sulawesi Tengah, Putri Irnawati, dalam sebuah pernyataan di Palu, kemarin.
Pertumbuhan transaksi ini dipengaruhi oleh tren positif dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang berkontribusi besar terhadap peningkatan aktivitas bisnis di pasar modal. "Selisih pertumbuhan senilai Rp2 triliun sepanjang tahun 2024 ini menunjukkan potensi besar pasar modal kita," ungkap Putri. Ia menambahkan bahwa peningkatan ini juga didorong oleh pertambahan jumlah investor di Sulawesi Tengah yang mencapai 120.085 Single Investor Identification (SID). "Semua ini berkesinambungan. Tanpa adanya pertumbuhan jumlah investor dari tahun ke tahun, tidak mungkin nilai transaksi kita bisa meningkat," jelasnya lebih lanjut, Jumat, 14 Februari 2025.
Strategi ke depan, BEI Sulteng berencana untuk terus menambah jumlah investor dengan target pertumbuhan sekitar 30%-35%. Untuk mencapai target ini, BEI akan memanfaatkan galeri investasi dan mengoptimalkan peran perusahaan sekuritas guna memfasilitasi investor di bursa efek. Data BEI mencatat bahwa dari total 120.085 SID di Sulteng, sebanyak 30.805 di antaranya merupakan investor saham. Analisis berdasarkan demografi menunjukkan bahwa kaum muda dari generasi Z mendominasi pasar modal di daerah ini dengan persentase 38,2%, mayoritas berusia antara 18 hingga 25 tahun. "Sosialisasi dan edukasi yang kami lakukan tidak sia-sia. Banyak masyarakat, terutama dari kalangan muda, berminat melantai di bursa efek. Salah satu faktor pendorong adalah modal investasi yang terjangkau," ujar Putri.
BEI mulai gencar dalam upaya edukasi dan sosialisasi agar semakin banyak masyarakat, terutama kalangan muda, tertarik untuk berinvestasi di pasar modal. Fenomena ini tidak terlepas dari upaya sosialisasi yang intensif dan keberadaan galeri investasi yang memudahkan akses. Model investasi di bursa efek yang tidak memerlukan modal besar turut menjadi daya tarik bagi investor muda. “Kalangan muda kini memanfaatkan kanal ini, sekaligus menjadikannya sebagai wadah untuk mempelajari lebih jauh tentang bisnis sekuritas,” tambah Putri.
Pasar modal juga dinilai sebagai media yang efektif untuk masyarakat dalam belajar membaca peluang bisnis dan sekaligus meningkatkan pemahaman untuk menghindari risiko investasi bodong. "Sebagai penyedia infrastruktur bursa efek, kami akan terus berupaya memperluas jangkauan layanan kami ke 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah. Tujuan kami adalah untuk meningkatkan investasi pasar modal pada tahun 2025," pungkas Putri.
Optimisme BEI tidak hanya berhenti pada angka dan statistik tetapi juga pada upaya berkelanjutan dalam menyediakan infrastruktur dan layanan yang memadai bagi investor di seluruh pelosok Sulawesi Tengah. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih aktif berpartisipasi dan mendapatkan manfaat maksimal dari investasi di pasar modal. Fenomena pertumbuhan ini tidak hanya menguntungkan para investor tetapi juga berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi daerah.
Ke depan, tantangan yang harus dihadapi BEI adalah bagaimana memastikan tren positif ini bisa bertahan jangka panjang, dan memberi dampak lebih luas pada ekonomi regional serta untuk semakin mengedukasi masyarakat agar partisipasi di pasar modal ini terus meningkat.
Dengan berfokus pada peningkatan layanan dan edukasi, BEI Sulteng optimis bahwa pasar modal akan terus tumbuh dan menawarkan peluang yang lebih besar bagi masyarakat setempat, mewujudkan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan yang lebih merata.