Geothermal

Indonesia Punya Potensi Kembangkan Geothermal, Teknologi Jadi Tantangan

Indonesia Punya Potensi Kembangkan Geothermal, Teknologi Jadi Tantangan
Indonesia Punya Potensi Kembangkan Geothermal, Teknologi Jadi Tantangan

JAKARTA - Indonesia memiliki cadangan energi panas bumi (geothermal) yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal. 

Potensi ini seharusnya menjadi tulang punggung transisi energi bersih, sekaligus membuka peluang ekonomi baru. 

Tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada teknologi, biaya awal, dan regulasi yang membatasi percepatan pengembangan.

Asisten Profesor Universitas Nottingham, Bagus Muljadi, menekankan bahwa Indonesia sejatinya memiliki modal besar untuk masuk ke sektor energi baru terbarukan (EBT). Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal ada atau tidaknya potensi, melainkan seberapa cepat dan efisien teknologi dapat diadaptasi untuk memanfaatkan cadangan geotermal.

Di sisi lain, Indonesia menghadapi dilema besar antara target net zero emission dan kebutuhan elektrifikasi nasional. 

Dengan kapasitas energi saat ini, elektrifikasi penuh membutuhkan waktu sangat lama, sementara target penurunan emisi menuntut percepatan pembangunan energi terbarukan. Geothermal menjadi salah satu opsi realistis untuk menyeimbangkan kedua tujuan tersebut.

Potensi Geothermal Indonesia Sangat Besar Namun Tertahan Teknologi

Menurut Bagus Muljadi, Indonesia menyimpan lebih dari 50% cadangan geothermal dunia, tetapi realisasi pemanfaatannya masih kurang dari 1%. Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk mengembangkan energi panas bumi sangat besar jika teknologi dan investasi memadai.

“Bottleneck-nya adalah teknologi, terutama di daerah upstream. Geothermal itu enterprise yang sangat mahal di front end capital dan sangat sulit secara teknologi,” jelas Bagus. Tantangan ini berbeda dengan energi fosil seperti minyak dan gas yang lebih mudah dikelola secara konvensional.

Selain itu, teknologi juga menjadi kunci untuk membuka potensi ekonomi tambahan, seperti penggunaan infrastruktur geothermal yang menurun produktivitasnya untuk carbon capture, hydrogen storage, dan inovasi energi baru lain yang mendukung ekonomi hijau.

Dilema Energi Indonesia Antara Net Zero dan Elektrifikasi

Indonesia masih menghadapi struktur pasar energi yang didominasi PLN, sehingga harga dan distribusi energi terkadang tidak mencerminkan efisiensi dan potensi sumber daya. Bagus menilai, fokus seharusnya pada pemanfaatan energi yang paling berpotensi, bukan sekadar mana yang paling “laku”.

“Di satu sisi kita ingin net zero sekitar 2060, tapi di sisi lain elektrifikasi penuh butuh waktu jauh lebih lama,” ujarnya. Hal ini menegaskan perlunya strategi yang mengutamakan EBT, khususnya geothermal, untuk mencapai kedua target secara realistis.

Bagus menekankan, energi baru terbarukan harus menjadi fokus utama jika Indonesia ingin mengejar target emisi dan elektrifikasi secara bersamaan. Prioritas ini akan menentukan keberhasilan transisi energi nasional.

Keunggulan Geothermal Dibanding Energi Terbarukan Lainnya

Pakar Geothermal Ali Ashat menyoroti kelebihan energi panas bumi yang dapat beroperasi 24 jam penuh, berbeda dengan tenaga surya atau angin yang tergantung cuaca. Hal ini membuat geothermal setara dengan pembangkit batu bara dari sisi kontinuitas, tetapi dengan jejak karbon jauh lebih rendah.

“Geotermal menghasilkan emisi yang sangat kecil. Jika pembangkit batu bara menghasilkan emisi karbon dioksida hingga 1.000, geotermal hanya sekitar 100 atau bahkan kurang,” jelas Ali. Keunggulan ini membuat geothermal menjadi solusi energi hijau yang efektif sekaligus ramah lingkungan.

Selain rendah emisi, geothermal juga aman bagi lingkungan lokal. Sumber panas bumi berada jauh di bawah permukaan tanah dan tidak mengganggu air tanah atau kebutuhan masyarakat sehari-hari. Operasi PLTP Kamojang sejak 1983 menjadi bukti konkret keberhasilan energi hijau ini di Indonesia.

Tantangan Investasi dan Regulasi Masih Menghambat

Pengembangan geothermal membutuhkan investasi awal yang tinggi dan teknologi kompleks di sektor hulu. Ini menjadi hambatan utama dalam memanfaatkan cadangan yang melimpah, sekaligus membatasi skala proyek dalam jangka pendek.

Selain tantangan teknis, regulasi dan izin juga menjadi faktor yang mempengaruhi percepatan pembangunan. Sektor energi baru terbarukan membutuhkan kebijakan yang jelas dan dukungan pemerintah untuk mempercepat implementasi proyek.

Meskipun demikian, peluang ekonomi baru tetap terbuka. Infrastruktur geothermal dapat dimanfaatkan untuk inovasi energi, memperkuat ketahanan nasional, dan menciptakan lapangan kerja, menjadikannya sektor strategis untuk pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index