BI

Penyebab UMKM Sulit Naik Kelas dan Solusi BI Terbaru

Penyebab UMKM Sulit Naik Kelas dan Solusi BI Terbaru
Penyebab UMKM Sulit Naik Kelas dan Solusi BI Terbaru

JAKARTA - UMKM kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Namun, kenyataannya banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang masih sulit naik kelas. 

Tantangan yang menghambat bukan hanya soal modal, tetapi juga masalah mendasar dalam pengelolaan usaha

. Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia (BI) menilai bahwa strategi penguatan UMKM perlu dilakukan lebih masif agar kontribusi sektor ini tidak hanya besar, tetapi juga berkelanjutan.

Sektor UMKM Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Bank Indonesia (BI) mencatat sebanyak tiga tantangan yang menghambat sulitnya UMKM naik kelas, dari realisasi kredit hingga kesiapan merambah pasar internasional.

Dikutip dari unggahan resmi instagram @bank_indonesia, realisasi kredit UMKM mengalami penurunan 0,64% secara tahunan hingga November 2025. 

Dari sisi pengelolaan, hanya terdapat 39,4% UMKM yang telah menerapkan sistem digital. Selain itu, kesiapan ekspor UMKM juga masih terbatas, baik dari sisi produksi, manajemen, hingga akses pasar.

“Dalam perjalanannya, banyak UMKM ingin tumbuh lebih jauh, tapi terhambat di hal-hal mendasar, #SobatRupiah. Mulai dari pencatatan keuangan yang belum rapi, data usaha yang belum tersusun, hingga sistem pembayaran yang belum optimal. Menyadari hal ini, Bank Indonesia punya strategi jitu agar UMKM dapat naik kelas dan terus #BeriMakna bagi keberlanjutan perekonomian kita,” ungkap Bank Indonesia.

Kredit UMKM Menurun, Pertumbuhan Usaha Terhambat

Salah satu hambatan utama yang membuat UMKM sulit naik kelas adalah realisasi kredit yang menurun. Bank Indonesia mencatat realisasi kredit UMKM turun 0,64% secara tahunan hingga November 2025. Kondisi ini jelas menjadi tantangan, karena akses pembiayaan merupakan salah satu motor utama bagi UMKM untuk mengembangkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan.

Penurunan kredit tersebut juga menegaskan bahwa masalah UMKM tidak hanya soal keinginan untuk tumbuh, tetapi juga terkait kemampuan mendapatkan pembiayaan yang tepat. 

Selain itu, belum seluruh UMKM memiliki data usaha yang rapi dan sistem keuangan yang teratur, sehingga bank atau lembaga pembiayaan sering kali kesulitan menilai kelayakan kredit.

Digitalisasi UMKM Masih Minim, Padahal Jadi Kunci Kompetisi

Dari sisi pengelolaan, hanya terdapat 39,4% UMKM yang telah menerapkan sistem digital. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM masih mengandalkan cara tradisional dalam menjalankan usaha. 

Padahal, digitalisasi menjadi faktor penting agar UMKM dapat meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan lebih mudah mengakses layanan keuangan.

Digitalisasi juga menjadi jembatan bagi UMKM untuk masuk ke pasar ekspor. Dengan sistem digital yang baik, UMKM dapat lebih mudah melakukan pencatatan, manajemen stok, hingga memasarkan produk ke luar negeri. Namun, kenyataannya kesiapan UMKM untuk merambah pasar internasional masih terbatas.

Kesiapan Ekspor UMKM Masih Terbatas, Akses Pasar Jadi Kendala

Kesiapan ekspor UMKM juga masih terbatas, baik dari sisi produksi, manajemen, hingga akses pasar. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak UMKM belum mampu naik kelas meski produknya potensial. 

Untuk bisa menembus pasar global, UMKM membutuhkan standar kualitas, kemampuan produksi yang konsisten, serta jaringan distribusi yang kuat.

Padahal sektor UMKM telah berkontribusi sebesar 60% terhadap perekonomian nasional. Selain itu, kontribusi UMKM ke pasar ekspor tercatat terus tumbuh sebesar 15,7%. Karenanya, BI mendorong UMKM naik kelas melalui 46 kantor perwakilan di daerah.

“Bank Indonesia hadir mendampingi UMKM agar tumbuh lebih kompetitif, berdampak, dan berkelanjutan,” ujar dia.

Strategi BI untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Bank Indonesia telah menetapkan sejumlah strategi untuk menarik konsumen, seperti market intelligence, kurasi dan promosi perdagangan, sinergi dengan stakeholders, hingga mengadakan business matching penjualan. 

Selain itu, BI juga memiliki strategi untuk mendorong UMKM seperti melakukan standarisasi dan sertifikasi produk, pemanfaatan platform digital, akses pembiayaan perbankan, hingga sinergi dengan kementerian dan lembaga.

“UMKM yang kuat adalah pilar perekonomian berkelanjutan. Bank Indonesia terus mendorong penguatan UMKM agar memiliki ekosistem usaha yang semakin kokoh,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index