Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan NPK Lewat Tangki Asam Sulfat

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:47:58 WIB
Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan NPK Lewat Tangki Asam Sulfat

JAKARTA - Langkah memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada sektor hulu pertanian, tetapi juga pada kesiapan industri pupuk dalam menjaga rantai pasok bahan baku. 

Di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan ketersediaan input pertanian, PT Petrokimia Gresik mengambil inisiatif strategis dengan membangun tangki asam sulfat berkapasitas besar untuk mendukung produksi pupuk majemuk nasional.

Sebagai anggota holding Pupuk Indonesia dan pionir pupuk majemuk di Tanah Air, Petrokimia Gresik menilai penguatan infrastruktur bahan baku menjadi fondasi penting agar produksi pupuk tetap berkelanjutan. 

Pembangunan tangki asam sulfat ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan pupuk NPK, yang menjadi salah satu komponen vital dalam mendukung produktivitas pertanian nasional.

Proyek Infrastruktur Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Proyek pembangunan tangki asam sulfat berkapasitas total 40.000 ton ini ditandai dengan pelaksanaan ground breaking oleh Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf, bersama Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob. Pembangunan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat ketahanan industri pupuk nasional.

Aminuddin Ma’ruf menyampaikan bahwa swasembada pangan nasional merupakan salah satu fokus utama Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita. 

Ia mengapresiasi kinerja Pupuk Indonesia, termasuk Petrokimia Gresik, yang dinilai konsisten mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional, bahkan lebih cepat dari target yang ditetapkan.

“Proyek ini (pembangunan tangki asam sulfat) pada akhirnya mendukung Asta Cita tentang ketahanan pangan. Dengan kondisi geopolitik dunia seperti sekarang, ketahanan pangan kita harus mandiri,” ujar Aminuddin Ma’ruf.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur penunjang seperti tangki bahan baku merupakan langkah strategis agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan eksternal. Dengan kemandirian pasokan bahan baku pupuk, sektor pertanian dapat berjalan lebih stabil di tengah ketidakpastian global.

Asam Sulfat Jadi Kunci Produksi Pupuk NPK

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menjelaskan bahwa asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam proses produksi pupuk majemuk NPK. Keberadaan tangki penyimpanan berkapasitas besar sangat dibutuhkan untuk menjamin kesinambungan produksi di masa mendatang.

“Dengan pembangunan tangki ini, Petrokimia Gresik akan semakin memperkuat pasokan bahan baku pupuk NPK nasional. Dengan demikian, Petrokimia Gresik dapat memberikan kontribusi semakin besar lagi bagi terwujudnya swasembada pangan nasional secara berkelanjutan, melalui penyediaan pupuk berkualitas bagi pertanian di Indonesia,” ujar Daconi.

Ia menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar penambahan fasilitas fisik, melainkan bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga ketersediaan pupuk bagi petani. 

Dengan pasokan bahan baku yang lebih terjamin, risiko gangguan produksi dapat ditekan, sehingga distribusi pupuk ke berbagai daerah dapat berlangsung lebih optimal.

Peran Petrokimia Gresik dalam Industri Pupuk Nasional

Sebagai pionir pupuk majemuk di Indonesia sejak tahun 2000, Petrokimia Gresik telah menjadi rujukan teknologi pupuk NPK di dalam negeri. Perusahaan ini memiliki total kapasitas produksi pupuk NPK sebesar 2,7 juta ton per tahun, menjadikannya produsen pupuk majemuk terbesar di Indonesia.

Daconi menegaskan bahwa keberadaan tangki asam sulfat ini akan memperkuat kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kapasitas produksi. 

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Petrokimia Gresik dapat terus menjaga ketersediaan pupuk NPK di dalam negeri, terutama pada masa tanam yang membutuhkan pasokan besar dan berkelanjutan.

“Dengan keberadaan tangki ini, Petrokimia Gresik bisa terus meningkatkan kapasitas produksi pupuk NPK untuk mendukung ketersediaan pupuk di dalam negeri,” ujar Daconi kembali.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya holding Pupuk Indonesia dalam memperkuat rantai pasok industri pupuk nasional. Sinergi antarunit usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem produksi pupuk yang lebih efisien dan berdaya saing.

Target Penyelesaian dan Komitmen Keselamatan Kerja

Tangki asam sulfat ini dibangun di kawasan Petrokimia Gresik, Gresik, Jawa Timur, tepatnya di area reklamasi tahap III dengan luas areal pembangunan mencapai 3 hektare. 

Proyek ini mencakup pembangunan dua unit tangki, masing-masing berkapasitas 20.000 ton. Dengan tambahan ini, total kapasitas penyimpanan asam sulfat Petrokimia Gresik nantinya akan mencapai 100.000 ton.

Proyek pembangunan tangki ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada Mei 2027, dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar 18 bulan. Selama proses konstruksi, perusahaan menegaskan komitmennya terhadap penerapan aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta perlindungan lingkungan.

“Kami pastikan proyek ini memperhatikan aspek-aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dengan baik. Petrokimia Gresik maupun kontraktor juga telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Rumah Sakit Petrokimia Gresik untuk penanganan kondisi darurat. Selain itu, dalam pengerjaan proyek ini kami juga mengutamakan aspek lingkungan,” tutup Daconi.

Dengan selesainya proyek ini, Petrokimia Gresik diharapkan semakin kokoh sebagai tulang punggung industri pupuk majemuk nasional. Infrastruktur yang kuat, pasokan bahan baku yang terjamin, serta komitmen terhadap keselamatan dan lingkungan menjadi modal penting dalam mendukung swasembada pangan Indonesia secara berkelanjutan.

Terkini