JAKARTA - Upaya pemerintah menyehatkan anggaran negara tidak hanya bergantung pada kebijakan fiskal semata, tetapi juga pada arah transformasi sektor transportasi.
Di tengah tingginya beban subsidi energi dan tekanan terhadap kualitas lingkungan, kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV) mulai dipandang sebagai solusi strategis yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus: efisiensi anggaran dan perbaikan lingkungan hidup.
Kendaraan listrik dinilai memiliki keunggulan signifikan dibandingkan kendaraan konvensional maupun hybrid. Selain tidak menghasilkan emisi gas buang, adopsi BEV secara luas juga diyakini mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi yang selama ini menjadi salah satu komponen besar pengeluaran negara.
Dengan demikian, peralihan ke kendaraan listrik bukan sekadar isu teknologi, melainkan juga berkaitan erat dengan kesehatan fiskal jangka panjang.
Kendaraan Listrik Dinilai Lebih Efektif Tekan Subsidi
Pengamat otomotif sekaligus Senior Instructor Safety Defensive Driving Consultant Indonesia, Sony Susmana, menilai BEV merupakan instrumen paling efektif dalam menekan beban subsidi energi.
Ia menegaskan bahwa dibandingkan kendaraan bermesin konvensional maupun hybrid electric vehicle (HEV), kendaraan listrik memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang lebih optimal.
“Dibandingkan kendaraan bermesin konvensional maupun hybrid electric vehicle (HEV), BEV dinilai memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang lebih optimal,” kata Sony Susmana.
Menurut Sony, peningkatan adopsi BEV menjadi krusial untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi. Selama ini, ketergantungan pada BBM fosil tidak hanya menimbulkan tekanan terhadap anggaran, tetapi juga memperbesar risiko fluktuasi biaya energi akibat perubahan harga global.
Dengan semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik, beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah dapat ditekan secara bertahap.
Transisi Energi Beri Ruang Fiskal Lebih Longgar
Peralihan ke transportasi berbasis listrik juga dinilai membuka ruang fiskal yang lebih leluasa bagi pemerintah. Sony menyebut bahwa anggaran yang sebelumnya terserap untuk subsidi energi dapat dialihkan ke sektor produktif lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.
“Dengan beralih ke transportasi berbasis listrik, pemerintah dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mengendalikan tekanan fiskal sekaligus mendukung agenda transisi energi,” katanya.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa alokasi subsidi energi pada tahun 2024 mencapai Rp177,62 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun 2023 yang sebesar Rp164,3 triliun.
Kenaikan ini mempertegas urgensi kebijakan yang mendorong pergeseran dari kendaraan berbasis fosil menuju kendaraan listrik.
Bagi pemerintah, tren peningkatan subsidi tersebut menjadi sinyal bahwa pola konsumsi energi perlu diubah secara struktural. Tanpa transformasi yang jelas, subsidi energi berpotensi terus membengkak dan membatasi kemampuan negara dalam membiayai program pembangunan lainnya.
Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Fiskal Negara
Sony menilai BEV memiliki potensi besar dalam menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama dalam jangka menengah hingga panjang. Ketika konsumsi BBM menurun, otomatis tekanan terhadap APBN juga akan berkurang. Dampak ini dinilai sangat positif bagi kesehatan fiskal negara.
“BEV memiliki potensi besar dalam menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Dalam jangka menengah hingga panjang, berdampak positif terhadap kesehatan fiskal negara,” ujar Sony.
Selain itu, kendaraan listrik juga sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Dengan semakin banyaknya BEV di jalan raya, kebutuhan impor BBM dapat ditekan, sehingga neraca perdagangan energi menjadi lebih seimbang. Kondisi ini turut memperkuat stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
Keunggulan Lingkungan Jadi Nilai Tambah Utama
Dari sisi lingkungan, kendaraan listrik unggul karena tidak menghasilkan emisi gas buang. Berbeda dengan kendaraan hybrid yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal, BEV sepenuhnya menggunakan tenaga listrik sehingga menjadi teknologi paling bersih di sektor transportasi.
Sony menjelaskan bahwa meskipun kendaraan hybrid sering dipandang sebagai solusi transisi, keberadaan mesin pembakaran di dalamnya tetap menghasilkan emisi. Sementara itu, BEV menawarkan solusi yang lebih menyeluruh dalam upaya menurunkan polusi udara, khususnya di wilayah perkotaan.
“Dengan pertumbuhan infrastruktur pengisian daya yang terus meningkat, BEV diposisikan sebagai pilar utama dalam transformasi transportasi rendah emisi,” pungkasnya.
Peningkatan infrastruktur pengisian daya menjadi faktor penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Ketika akses pengisian semakin mudah dan merata, kepercayaan masyarakat terhadap BEV juga akan meningkat. Hal ini diharapkan dapat mempercepat peralihan dari kendaraan berbasis fosil ke kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, kendaraan listrik tidak hanya menawarkan manfaat lingkungan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap efisiensi anggaran negara.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan berkelanjutan, BEV berpotensi menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih bersih, efisien, dan ramah fiskal di masa depan.