Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mengonfirmasi bahwa stabilitas kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) tetap terjaga secara stabil. Indikator tersebut didorong oleh kinerja intermediasi yang baik dan profil risiko yang terkelola dengan baik. Meskipun ada berbagai tantangan ekonomi, sektor jasa keuangan terus memainkan peran krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional, Senin, 10 Februari 2025.
Memasuki akhir tahun 2024, sektor perbankan Sulsel menunjukkan kinerja yang stabil dan pertumbuhan yang positif. “Sektor perbankan di provinsi ini tetap berada pada kondisi stabil dan tumbuh positif pada posisi Desember 2024,” ujar Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Darwisman, dalam sebuah siaran pers yang diterima SINDO Makassar pada Senin, 10 Februari 2025.
Pertumbuhan Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Data terbaru menunjukkan bahwa total aset perbankan di Sulawesi Selatan mengalami pertumbuhan sebesar 5,88 persen year-on-year (yoy), mencapai angka Rp203,47 triliun. Dari jumlah tersebut, bank konvensional mendominasi dengan aset senilai Rp185,64 triliun, sementara bank syariah menyumbang Rp17,81 triliun. Menariknya, tingkat pertumbuhan aset bank syariah mencapai 22,24 persen, menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Darwisman mencatat, "Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,64 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp133,59 triliun, didominasi oleh tabungan dengan share 61,74 persen." Data ini mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan di wilayah ini masih relatif tinggi.
Kinerja Penyaluran Kredit
Penyaluran kredit oleh perbankan di Sulsel juga mencatat pertumbuhan sebesar 4,23 persen (yoy) dengan nilai Rp164,29 triliun. Penyaluran kredit produktif mendominasi dengan share mencapai 54,20 persen, di mana sektor perdagangan besar dan eceran menerima porsi kredit terbesar sebesar 23,24 persen. "Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit yang disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran memiliki porsi terbesar," jelas Darwisman lebih lanjut.
Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada 125,23 persen menunjukkan bahwa perbankan di Sulsel masih beroperasi dengan efisien, sementara tingkat rasio kredit bermasalah terjaga di level aman 2,70 persen.
Perbankan Syariah: Pertumbuhan Lebih Tinggi
Perbankan syariah di Sulawesi Selatan menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan sektor konvensional. Pada Desember 2024, aset perbankan syariah meningkat sebesar 22,24 persen (yoy) menjadi Rp17,82 triliun. Selain itu, penghimpunan DPK tumbuh 18,96 persen menjadi Rp12,15 triliun. Penyaluran pembiayaan syariah juga naik 19,82 persen (yoy) mencapai Rp14,21 triliun.
"Tingkat intermediasi perbankan syariah berada pada level 116,97 persen dengan tingkat NPF pada level 2,11 persen," Darwisman menambahkan. Ini menunjukkan bahwa perbankan syariah di Sulawesi Selatan berhasil mengelola risiko dan mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam penghimpunan dan penyaluran dana.
Dukungan Terhadap Ekonomi Daerah
Di tengah berbagai dinamika ekonomi lokal dan nasional, sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan, terutama perbankan, terus memberikan dukungan substansial terhadap ekonomi daerah. Capaian ini menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Dengan terus berkembangnya sektor perbankan, baik konvensional maupun syariah, diharapkan dapat lebih berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan, meningkatkan akses terhadap layanan keuangan serta mendorong inklusivitas keuangan bagi masyarakat.
Stabilitas kinerja sektor keuangan Sulawesi Selatan, terutama di sektor perbankan, menjadi bukti bahwa pembinaan dan pengawasan yang ketat dari OJK mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ke depan, perlu upaya untuk terus meningkatkan kepercayaan publik dan menjaga kolaborasi antar-lembaga keuangan untuk penguatan ekonomi daerah.