Menkes BGS

Menkes BGS Ungkap Kasus Hipertensi Dan TBC Masih Tinggi

Menkes BGS Ungkap Kasus Hipertensi Dan TBC Masih Tinggi
Menkes BGS Ungkap Kasus Hipertensi Dan TBC Masih Tinggi

JAKARTA - Upaya pemerintah memperluas skrining kesehatan nasional mulai memperlihatkan gambaran nyata kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. 

Di balik meningkatnya angka deteksi penyakit, tersimpan persoalan yang tak kalah besar, yakni masih lemahnya pengendalian dan keberlanjutan pengobatan penyakit kronis. 

Dua penyakit yang paling menonjol dalam hasil evaluasi terbaru adalah hipertensi dan tuberkulosis (TBC), yang hingga kini masih mencatatkan kasus tinggi di Tanah Air.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai bahwa keberhasilan skrining belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan pengobatan. Padahal, penyakit kronis seperti hipertensi dan TBC memiliki dampak jangka panjang yang serius jika tidak ditangani secara konsisten dan menyeluruh. Kondisi ini menjadi tantangan utama sistem kesehatan nasional dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, 19 Januari 2026, Budi Gunadi Sadikin secara terbuka memaparkan tantangan tersebut. 

Ia menekankan bahwa fokus kebijakan kesehatan saat ini tidak boleh berhenti pada tahap menemukan penyakit, melainkan harus memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

Pengobatan Jadi Kunci Pengendalian Hipertensi

BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa persoalan terbesar dalam penanganan hipertensi adalah rendahnya tingkat pengendalian pasien setelah terdeteksi. 

Menurutnya, jutaan masyarakat Indonesia diketahui mengidap hipertensi, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar menjalani pengobatan secara teratur dan mencapai kondisi terkendali.

"Masalah kita sekarang bukan hanya menemukan penyakitnya, tapi memastikan pengobatannya berjalan dan terkendali. Hipertensi ini kalau dibiarkan tiga sampai lima tahun bisa berujung stroke atau serangan jantung, padahal kalau diobati rutin, kualitas hidupnya bisa jauh lebih baik dan biayanya jauh lebih murah," kata BGS.

Ia menjelaskan bahwa hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala yang dirasakan langsung oleh penderitanya. Akibatnya, banyak pasien merasa tidak perlu minum obat secara rutin atau melakukan kontrol berkala. Padahal, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali berisiko memicu komplikasi berat seperti stroke dan penyakit jantung koroner.

BGS menambahkan, pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol memiliki dampak signifikan terhadap penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Menurutnya, pengelolaan yang baik dapat menurunkan risiko kematian hingga 30%-50%, sekaligus menekan beban pembiayaan kesehatan dalam jangka panjang.

Temuan TBC Meningkat Berkat Skrining Agresif

Selain hipertensi, tuberkulosis juga menjadi perhatian utama pemerintah. Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus TBC yang ditemukan bukan berarti situasi memburuk, melainkan mencerminkan keberhasilan skrining yang semakin luas dan agresif.

"Ini penyakit menular, obatnya ada dan sangat ampuh. Tapi selama ini banyak yang tidak terdeteksi karena orang malu. Sekarang kita kejar supaya ketahuan lebih banyak dan diobati lebih banyak," ujarnya.

Menurut BGS, stigma sosial selama ini menjadi salah satu penghambat utama dalam penanganan TBC. Banyak penderita enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan, sehingga penularan berlangsung secara diam-diam di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Saat ini, sekitar 93 persen pasien TBC yang terdeteksi telah menjalani pengobatan. Pemerintah terus mendorong peningkatan angka tersebut melalui penguatan layanan di puskesmas, termasuk pemeriksaan terhadap kontak erat pasien TBC. Langkah ini dinilai krusial untuk memutus mata rantai penularan penyakit menular tersebut.

BGS menegaskan bahwa pengobatan TBC harus dijalani hingga tuntas. Jika pengobatan terputus, risiko resistansi obat akan meningkat dan justru memperberat upaya pengendalian TBC secara nasional.

Peran Layanan Primer Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

Komisi IX DPR RI dalam rapat kerja tersebut menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer agar hasil skrining benar-benar berdampak pada kualitas hidup masyarakat. 

Anggota Komisi IX Irma Chaniago bersama sejumlah anggota lainnya menilai bahwa deteksi dini harus dibarengi dengan sistem tindak lanjut pengobatan yang kuat dan berkelanjutan.

Penguatan layanan primer dipandang sebagai kunci untuk memastikan pasien hipertensi dan TBC mendapatkan pendampingan jangka panjang, mulai dari edukasi, pemantauan kepatuhan minum obat, hingga evaluasi rutin kondisi kesehatan. Tanpa sistem yang kuat di tingkat layanan dasar, hasil skrining berisiko hanya menjadi data tanpa perubahan nyata bagi pasien.

Pemerintah sendiri menargetkan peningkatan usia harapan hidup nasional dari 72 tahun menjadi 76 tahun, serta menaikkan rata-rata usia hidup sehat dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Target ambisius tersebut, menurut BGS, hanya dapat tercapai jika penyakit kronis tidak berhenti pada tahap deteksi semata.

Hipertensi dan TBC disebut sebagai contoh nyata bahwa tantangan kesehatan Indonesia kini bergeser dari penyakit akut ke penyakit kronis dan menular yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pengobatan berjalan konsisten dan efektif.

Dengan penguatan layanan primer, perluasan skrining, serta pengobatan yang berkelanjutan, pemerintah berharap beban penyakit kronis dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index