KESEHATAN

Menurunkan Gula Darah Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Menurunkan Gula Darah Kurangi Risiko Penyakit Jantung
Menurunkan Gula Darah Kurangi Risiko Penyakit Jantung

JAKARTA - Upaya menurunkan kadar gula darah sering kali dipahami hanya sebagai langkah mencegah diabetes. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan manfaat yang jauh lebih besar. 

Bagi penderita pradiabetes, keberhasilan mengembalikan kadar gula darah ke level normal ternyata berkaitan erat dengan penurunan risiko penyakit jantung dan gagal jantung dalam jangka panjang.

Pradiabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah berada di atas normal tetapi belum masuk kategori diabetes. Rentang kadar gula darah puasa pada kelompok ini berkisar antara 100 hingga 125 mg/dL. 

Meski kerap dianggap ringan, pradiabetes kini semakin dipandang sebagai fase krusial yang menentukan kesehatan jantung seseorang di masa depan.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa penderita pradiabetes yang berhasil menurunkan gula darah hingga kembali normal memiliki peluang hidup yang lebih baik. Bahkan, risiko kematian akibat penyakit jantung atau rawat inap karena gagal jantung dapat turun hingga sekitar 50 persen.

Pradiabetes Dan Dampaknya Bagi Jantung

Selama ini, diabetes tipe 2 telah lama diketahui meningkatkan risiko serangan jantung dan gagal jantung. Namun, peran pradiabetes masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. 

Sebagian ahli menilai pradiabetes berbahaya karena berpotensi berkembang menjadi diabetes, sementara lainnya mempertanyakan apakah pradiabetes sendiri sudah membawa risiko kesehatan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 12 Desember memberikan jawaban penting atas perdebatan tersebut. 

Studi ini menemukan bahwa penderita pradiabetes yang berhasil mencapai kondisi “remisi”, yaitu kadar glukosa kembali normal, memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang jauh lebih rendah, bahkan hingga 20 tahun kemudian.

“Ini benar-benar memberi harapan bahwa apa yang dilakukan seseorang hari ini bisa berdampak besar dua dekade ke depan,” kata Dr. Latha Palaniappan dari Stanford Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pradiabetes bukan sekadar tahap awal diabetes, melainkan kondisi yang perlu ditangani serius sejak dini untuk melindungi kesehatan jantung.

Temuan Penelitian Jangka Panjang Di Berbagai Negara

Penelitian ini merupakan analisis lanjutan dari dua uji klinis besar yang dilakukan di Amerika Serikat dan Tiongkok. Salah satunya adalah Program Pencegahan Diabetes di Amerika Serikat yang berlangsung pada periode 1996 hingga 2001.

Dalam program tersebut, penderita pradiabetes dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama mengikuti program perubahan gaya hidup intensif yang mencakup pengaturan pola makan dan olahraga. Kelompok kedua mendapatkan pengobatan metformin, sementara kelompok ketiga menerima plasebo.

Hasil awal menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup intensif mampu menurunkan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 hingga 58 persen dalam tiga tahun. Sementara itu, penggunaan metformin menurunkan risiko tersebut sekitar 31 persen.

Ketika para peneliti menelusuri kondisi peserta sekitar dua dekade kemudian, sekitar 11 persen dari mereka sempat mencapai kadar glukosa normal dalam satu tahun pertama. 

Kelompok ini tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung atau rawat inap karena gagal jantung sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan peserta yang tidak pernah mencapai kadar gula normal.

Hasil serupa juga ditemukan dalam studi di Tiongkok. Sekitar 13 persen peserta berhasil menormalkan gula darah setelah enam tahun. Tiga dekade kemudian, kelompok ini memiliki risiko penyakit jantung yang 51 persen lebih rendah.

“Menariknya, intervensi jangka pendek bisa memberi efek jangka panjang,” kata Elizabeth Selvin, profesor epidemiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Mengapa Gula Darah Normal Melindungi Jantung

Para ahli memperkirakan bahwa menormalkan kadar glukosa darah memicu berbagai perubahan positif di dalam tubuh. Salah satunya adalah berkurangnya lemak di area perut, yang diketahui berkaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Selain itu, kadar gula darah yang lebih stabil dapat menekan peradangan kronis tingkat rendah, yang selama ini menjadi faktor penting dalam perkembangan penyakit jantung. Sensitivitas insulin juga cenderung membaik, sehingga tubuh lebih efisien dalam mengelola gula darah.

Kombinasi dari faktor-faktor tersebut berkontribusi besar terhadap perlindungan jangka panjang bagi kesehatan jantung. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa manfaat ini tidak muncul secara instan dan membutuhkan konsistensi dalam menjaga gaya hidup sehat.

Tantangan Mengendalikan Pradiabetes Sejak Dini

Meski hasil penelitian menunjukkan manfaat besar, kenyataannya hanya sebagian kecil peserta yang berhasil mencapai kadar gula darah normal, baik di Amerika Serikat maupun di Tiongkok. Hal ini menandakan bahwa mengendalikan pradiabetes bukan perkara mudah.

Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan tersebut, mulai dari kepatuhan terhadap pola makan sehat, konsistensi berolahraga, hingga dukungan lingkungan dan layanan kesehatan. Karena itu, para ahli menilai dibutuhkan pendekatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

“Ini bukti kuat bahwa perubahan itu mungkin,” kata Judy Regensteiner dari University of Colorado. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat lebih banyak orang bisa mencapainya.”

Para pakar juga mengingatkan bahwa menurunkan kadar glukosa darah hanyalah salah satu komponen dalam mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Untuk perlindungan yang optimal, seseorang tetap perlu menjaga berat badan ideal, menjalani pola makan seimbang, dan rutin beraktivitas fisik.

Dengan kata lain, pradiabetes bukan akhir dari segalanya. Justru, fase ini dapat menjadi peluang emas untuk melakukan perubahan yang berdampak besar bagi kesehatan jantung hingga puluhan tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index