Jakarta - Insiden kebakaran di smelter baru PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, pada Oktober 2024 memicu penutupan sementara operasional fasilitas peleburan tersebut. Kebakaran terjadi di pabrik asam sulfat, area yang vital untuk proses peleburan tembaga, menjadi perhatian serius Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, melaporkan bahwa kebakaran bermula dari deteksi api oleh teknisi listrik PT Chiyoda International Indonesia, yang kemudian membesar dan diikuti oleh ledakan, Rabu, 19 Februari 2025.
Tri Winarno menjelaskan, "Sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik, insiden ini dikategorikan sebagai 'kejadian yang berbahaya'," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada Rabu, 19 Februari 2025. Berdasarkan hasil investigasi lapangan dari tim Ditjen Minerba, delapan tindakan koreksi diusulkan untuk memperbaiki dan meningkatkan keselamatan operasional smelter Freeport.
Delapan tindakan koreksi tersebut meliputi pemasangan pengatur suhu atau detektor panas serta kamera pemantau di area WESP. "Pemasangan alat ini sangat penting untuk memonitor kondisi suhu dan memastikan keselamatan operasional di area yang krusial," ujar Tri. Jadwal start-up feeding juga perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa pengawasan teknis dan operasional dilakukan dengan memadai selama commissioning.
Langkah koreksif lainnya adalah pemasangan sarana pemadam api otomatis di WESP dan penyusunan perangkat instrumen untuk memudahkan penanganan kondisi darurat. Selain itu, pemasangan alarm dan tombol aktivasi kondisi darurat, penerapan referensi HAZOP, serta assessment mendalam terkait manajemen risiko juga menjadi bagian dari rekomendasi Kementerian ESDM. Seluruh langkah ini diharapkan dapat meminimalisasi kemungkinan terulangnya insiden kebakaran di masa depan.
Menyoroti pentingnya manajemen risiko yang baik, Tri menambahkan, "Melakukan assessment yang lebih mendalam terkait manajemen risiko secara internal dan eksternal akan membantu kita mendapatkan akar penyebab kejadian sehingga mencegah peristiwa serupa."
Sementara itu, DPR RI lewat Anggota Komisi XII, Dewi Yustisiana dari Fraksi Golkar, mengkritik tajam langkah pengamanan keselamatan Freeport yang dianggap tampak lemah. "Untuk mencapai tahap operasional, ada proses testing setelah pre-commissioning. Artinya, semua alat bekerja baik. Mengapa setelah commissioning, terjadi insiden?" tanyanya.
Dewi lebih jauh mempertanyakan apakah safety measurement yang dimiliki Freeport sudah memadai. "Dengan reputasi Freeport, ini sangat mengecewakan," ujarnya. Pertanyaan ini muncul lantaran Freeport merupakan perusahaan besar yang seharusnya memiliki langkah pengamanan berlapis-lapis terhadap insiden yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Kebakaran di smelter Freeport mengingatkan pentingnya standar keselamatan yang tinggi, khususnya di sektor industri pertambangan dan peleburan. Langkah korektif yang diusulkan, tidak hanya mencerminkan komitmen Kementerian ESDM, tetapi juga sebagai langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang. Kejadian ini juga menjadi evaluasi bagi perusahaan besar seperti Freeport untuk terus meningkatkan dan memperketat sistem keselamatan operasionalnya.
Dengan revisi dan penerapan kebijakan keselamatan yang lebih ketat, diharapkan operasional smelter Freeport dapat kembali berjalan dengan standar keselamatan yang lebih baik, mencegah terjadinya insiden berbahaya, serta menjamin lingkungan kerja yang aman untuk seluruh pekerja dan teknisi yang terlibat.