Seorang Kakek Meninggal Tertabrak Kereta di Blitar, Gangguan Pendengaran Diduga Menjadi Penyebab

Selasa, 18 Februari 2025 | 16:39:51 WIB
Seorang Kakek Meninggal Tertabrak Kereta di Blitar, Gangguan Pendengaran Diduga Menjadi Penyebab

Jakarta – Kejadian tragis menimpa seorang kakek berinisial SW, berusia 68 tahun, yang ditemukan meninggal dunia di sekitar perlintasan kereta api di Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Blitar. Insiden ini terjadi pada Selasa, 18 Februari 2025. sekitar pukul 06.21 WIB. SW yang merupakan warga Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, diketahui tertabrak oleh kereta api di emplasemen Stasiun Pohgajih, tepatnya di wesel 2 KM 86.

Ipda Putut Siswahyudi, selaku Kasubsi PIDM Sihumas Polres Blitar, mengungkapkan bahwa informasi awal diperoleh dari masinis kereta 36 Gajayana yang melaporkan adanya seseorang yang tertabrak. "Masinis memberikan informasi penting mengenai adanya insiden di perlintasan, dan petugas langsung bergerak mencari lokasi kejadian," ujar Putut.

Setelah dilakukan pencarian, petugas menemukan jasad SW di sebelah utara jalur rel kereta api. Sayangnya, saat ditemukan, kakek tersebut sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Kepolisian setempat, Polsek Selorejo, segera diberitahu untuk melakukan investigasi lebih lanjut terkait insiden memilukan ini.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa SW mengalami cedera parah. "Bagian kepala korban hancur, organ mata keluar, leher serta beberapa tulang punggung dan tulang rusuk patah," terang Putut. Cedera lainnya termasuk patah pada tangan sebelah kiri dan lengan atas. Keterangan ini menggambarkan betapa fatalnya kecelakaan yang terjadi.

Belakangan diketahui, SW mengalami gangguan pendengaran serta dimensia, atau biasa disebut pikun. Kondisi kesehatan inilah yang diduga kuat menjadi faktor utama terjadinya insiden tersebut. "Keterangan dari keluarga menyebutkan bahwa korban mengalami penurunan pendengaran dan dimensia, yang mungkin membuatnya tidak menyadari keberadaan kereta yang mendekat," jelas Putut.

Pihak keluarga SW sudah menerima kejadian ini sebagai musibah. Mereka juga telah membuat pernyataan resmi yang menyatakan tidak akan dilakukan autopsi terhadap jenazah SW. "Pihak keluarga menerima insiden ini dengan lapang dada, dan menghendaki agar tidak dilakukan autopsi," tambah Ipda Putut.

Tragedi ini menambah daftar panjang insiden kecelakaan di kawasan perlintasan kereta api. Pentingnya kewaspadaan dan perhatian terhadap keselamatan di area perlintasan menjadi sorotan utama. Apalagi, kecelakaan ini melibatkan lansia yang memiliki kendala kesehatan seperti gangguan pendengaran dan dimensia.

Masyarakat sekitar pun diharapkan dapat saling mengingatkan dan menjaga lingkungan agar terhindar dari kejadian serupa. "Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu waspada, terutama bagi keluarga yang memiliki anggota dengan kondisi khusus. Pendampingan dan perhatian lebih diperlukan agar insiden seperti ini dapat dicegah," tutur Ipda Putut.

Duka mendalam dirasakan oleh keluarga dan masyarakat sekitar atas kehilangan SW. Semoga kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih peduli dan waspada terhadap keselamatan di jalur perlintasan kereta api.

Dengan adanya sosialisasi dan peningkatan keamanan di sekitar perlintasan kereta api, diharapkan tidak ada lagi korban jiwa yang jatuh. Polres Blitar beserta jajaran kepolisian lainnya berkomitmen untuk meningkatkan patroli dan pengawasan di area rawan kecelakaan, guna memastikan keselamatan warga setempat.

Sebagai langkah antisipasi, penting bagi masyarakat untuk mematuhi aturan keselamatan saat berada di sekitar jalur kereta api. Langkah sederhana seperti berhenti dan mendengarkan sebelum menyeberang, serta memperhatikan rambu-rambu keselamatan, dapat menyelamatkan banyak nyawa. Mari bersama-sama ciptakan lingkungan yang lebih aman demi menghindari insiden tragis seperti ini terjadi kembali.

Terkini