Saham BCA Menguat 4,47%: Apakah Ini Permulaan Tren Positif?

Senin, 10 Februari 2025 | 12:22:01 WIB
Saham BCA Menguat 4,47%: Apakah Ini Permulaan Tren Positif?

Jakarta – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), salah satu bank terbesar di Indonesia, mencatatkan penguatan signifikan sebesar 4,47% ke Rp 9.350 pada perdagangan Jumat, 7 Februari 2025 lalu. Langkah maju ini merupakan titik balik setelah saham BCA menunjukkan kinerja kurang menggembirakan sepanjang awal Februari.

Pada tanggal tersebut, sekitar 131,16 juta saham BCA diperdagangkan dengan frekuensi 34.185 kali, menghasilkan transaksi senilai Rp 1,2 triliun. Ini adalah tanda bahwa investor mulai kembali melirik saham ini setelah mengalami penurunan dari hari sebelumnya.

Muhammad Wafi, analis teknikal dari RHB Sekuritas, menyatakan bahwa saham BCA menunjukkan formasi rebound dan berhasil menembus resistance di garis MA5 dengan dukungan volume yang signifikan. "Selama harga tetap di atas garis MA5, ada potensi untuk kembali rebound dan menguji resistance garis MA20 sekaligus resistance bearish channel-nya," jelas Wafi dalam analisis terbarunya yang dirilis pada Senin, 10 Februari 2025.

Ia merekomendasikan untuk membeli saham BBCA di sekitar harga Rp 9.225 dengan target jual antara Rp 9.650 hingga Rp 9.925. Dengan batas cut loss di Rp 8.950, Wafi memberikan panduan jelas kepada para investor untuk memaksimalkan keuntungan mereka.

Fenomena ini juga berbarengan dengan meningkatnya jumlah pemegang saham BCA yang kini mencapai 402.515 investor per 31 Januari 2025, meningkat dari 377.292 pemegang saham per akhir Desember tahun lalu. Meski harga saham BCA sempat melemah di awal tahun, minat investor justru bertambah, mungkin dipicu oleh potensial rebound yang ditunjukkan saham ini.

Meski secara fundamental BCA dianggap kuat, ada penyesuaian ekspektasi bagi prospek pertumbuhan tahun 2025. Sucor Sekuritas menyampaikan bahwa target harga BCA telah direvisi turun menjadi Rp 11.500, meskipun mereka tetap memberikan rekomendasi beli. Kondisi pasar yang tidak seagresif tahun sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan utama.

Secara valuasi, rasio price to book value (PBV) BCA berada di 4,39 kali, lebih rendah dari mean PBV standard deviation 3 tahun yang berada di 4,97 kali. Sementara itu, price earning ratio (PER) tercatat di 21,02 kali (TTM), juga di bawah mean PE standard deviation 3 tahun yang mencapai 25,98 kali.

Dalam waktu dekat, BCA juga berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2025. Meskipun agenda rapat belum diungkap secara rinci, mengacu pada RUPST tahun lalu, salah satu agenda utamanya adalah persetujuan penggunaan laba bersih.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mempertegas komitmen bank terhadap pembayaran dividen yang meningkat setiap tahun, kecuali pada periode yang terdampak pandemi COVID-19. "Kami pernah berjanji kepada para investor, dividen yang dibayar BCA dalam jumlah absolut harus lebih tinggi setiap tahun. Tahun ini naik 12,7%, tetapi kami harus menunggu keputusan RUPS," terang Jahja dalam konferensi pers, Kamis, 23 Januari 2025.

Untuk tahun buku 2023, BCA membagikan dividen total sebesar Rp 33,28 triliun atau Rp 270 per saham. Jumlah tersebut terdiri dari dividen interim Rp 42,5 per saham dan dividen final Rp 227,5 per saham. Di tahun buku 2024, BCA telah mendistribusikan dividen interim sebesar Rp 50 per saham, yang dibayarkan pada 11 Desember 2024.

Dengan melihat berbagai faktor ini, khususnya rebound dari saham BCA, para investor kini memiliki pertimbangan yang lebih matang untuk kembali berinvestasi di salah satu saham perbankan paling prestisius di Indonesia. Pengumuman lebih lanjut pada RUPST juga diharapkan dapat memberikan gambar yang lebih jelas mengenai arah perusahaan ini ke depan.

Terkini