Pembangunan PLTN di Indonesia Butuh Waktu Lama dan Rencana Jangka Panjang

Rabu, 04 Maret 2026 | 12:12:42 WIB
Pembangunan PLTN di Indonesia Butuh Waktu Lama dan Rencana Jangka Panjang

JAKARTA - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia diperkirakan memerlukan waktu yang cukup panjang, antara 11 hingga 14 tahun. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus berkembang. 

PT PLN (Persero) dalam hal ini berperan penting dalam merencanakan infrastruktur ketenagalistrikan masa depan, yang akan mencakup pembangkit energi ramah lingkungan, termasuk tenaga nuklir.

Perencanaan Jangka Panjang Energi Nuklir

Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan bahwa pembangunan PLTN membutuhkan perencanaan yang matang dalam jangka waktu panjang. Menurutnya, pembangunan PLTN adalah salah satu upaya strategis untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. 

Hal ini juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia untuk meningkatkan ketahanan energi dan mendukung transisi ke energi bersih.

Pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas nuklir yang direncanakan baru sebesar 500 megawatt. Namun, melalui studi bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Energi Internasional (IEA), PLN memperkirakan bahwa setelah 2035, Indonesia perlu menambah kapasitas nuklir hingga mencapai 7 gigawatt guna memenuhi permintaan listrik yang terus berkembang.

Waktu Konstruksi yang Panjang untuk PLTN

Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan PLTN adalah waktu pembangunan yang cukup lama. Berdasarkan estimasi, pembangunan PLTN membutuhkan waktu antara 11 hingga 14 tahun, sebuah durasi yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan pembangunan pembangkit listrik konvensional. 

Hal ini menjadi alasan mengapa pembangunan PLTN belum dapat dimasukkan dalam perencanaan jangka pendek seperti RUPTL 2025–2034, yang hanya mencakup waktu hingga tahun 2034.

Namun, Darmawan juga menambahkan bahwa pemerintah saat ini sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang horizon RUPTL hingga tahun 2040. 

Dengan perpanjangan ini, PLN berharap dapat mengakomodasi pembangunan PLTN yang lebih besar, termasuk peningkatan kapasitas nuklir yang jauh lebih signifikan, dari yang awalnya hanya 500 megawatt menjadi 7 gigawatt.

PLTN sebagai Solusi untuk Ketahanan Energi Masa Depan

Menurut Darmawan, tantangan besar Indonesia adalah bagaimana memastikan ketahanan energi yang berkelanjutan. PLTN menjadi solusi potensial untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang, terutama dengan populasi yang terus berkembang dan kebutuhan energi yang semakin tinggi. 

Di sisi lain, pemanfaatan energi nuklir juga sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Saat ini, Indonesia hanya mengandalkan sedikit energi nuklir dalam bauran energinya, dengan porsi sekitar 0,5 persen. Namun, dalam jangka panjang, terutama pada 2060, Indonesia menargetkan untuk menghasilkan hingga 44 gigawatt tenaga nuklir, yang mana 35 gigawatt akan digunakan untuk pembangkitan listrik dan 9 gigawatt untuk produksi hidrogen nasional mulai tahun 2045. 

Ini akan menjadikan nuklir sebagai bagian besar dari bauran energi Indonesia, yang porsi kontribusinya diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 11 persen pada 2060.

Penguatan Rencana Pembangunan PLTN di Sumatera dan Kalimantan

Dalam perencanaan RUPTL 2025–2034, PLTN direncanakan akan dikembangkan di sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan cadangan energi yang lebih stabil, mengingat kedua wilayah tersebut merupakan pusat kegiatan ekonomi penting di Indonesia. Pengembangan PLTN juga akan memastikan pasokan energi yang cukup untuk industri dan masyarakat.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, mengonfirmasi bahwa target Indonesia adalah agar PLTN pertama beroperasi pada rentang waktu 2032 hingga 2034. 

Rencana besar ini akan menjadi bagian dari pencapaian total kapasitas nuklir 44 gigawatt pada 2060, sebagai upaya untuk mendukung komitmen Indonesia menuju net zero emission.

Pembangunan PLTN di Indonesia tentu membutuhkan berbagai persiapan yang matang, termasuk peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM), perbaikan infrastruktur, serta kerjasama dengan berbagai pihak terkait. Pemerintah, bersama dengan PLN dan kementerian terkait, telah memulai langkah-langkah awal untuk mewujudkan rencana besar ini.

Mendukung Transisi Energi dengan PLTN

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi, transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan terbarukan sangat diperlukan. PLTN menjadi salah satu pilihan utama dalam mewujudkan hal ini, meskipun menghadapi tantangan dalam waktu pembangunan dan biaya. 

Pemerintah dan PLN, dalam hal ini, berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk memastikan agar pembangunan PLTN dapat berlangsung dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi ketahanan energi Indonesia di masa depan.

Namun, proses ini memerlukan perencanaan jangka panjang, baik dari sisi kebijakan, pendanaan, hingga infrastruktur. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, PLN, serta berbagai stakeholder terkait, Indonesia dapat menuju sistem ketenagalistrikan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Terkini