JAKARTA - Pemilihan jenis buah yang dikonsumsi saat berbuka puasa menjadi faktor penentu utama dalam menjaga kestabilan sistem pencernaan dan tingkat kebugaran tubuh selama Ramadan.
Masyarakat Indonesia sering kali hanya mengutamakan kesegaran semata tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kandungan nutrisi serta tingkat keasaman buah yang masuk ke lambung.
Kondisi perut yang kosong selama belasan jam memerlukan penyesuaian nutrisi yang lembut agar tidak menimbulkan reaksi negatif seperti nyeri ulu hati atau gangguan metabolisme.
Pakar kesehatan mengingatkan agar setiap individu mulai memperhatikan profil glikemik serta kadar gas dalam buah sebelum memutuskan untuk menjadikannya sebagai menu utama pembuka ibadah.
Pada Rabu 25 Februari 2026 ini, edukasi mengenai pola makan sehat saat Ramadan kembali ditekankan guna memastikan umat muslim dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah secara maksimal.
Keunggulan Buah Kurma dan Hidrasi Alami dari Semangka
Buah kurma tetap menjadi primadona utama yang sangat direkomendasikan karena kandungan gula alaminya yang mampu memberikan energi instan tanpa membebani kerja organ pencernaan manusia.
Kandungan serat yang melimpah pada kurma juga berperan penting dalam membantu proses penyerapan nutrisi secara bertahap sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama hingga waktu sahur.
Selain kurma, buah semangka menjadi pilihan yang sangat tepat karena memiliki kadar air mencapai 90 persen yang sangat krusial untuk mengembalikan cairan tubuh setelah seharian penuh.
Semangka juga kaya akan likopen yang berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk menangkal radikal bebas serta memberikan sensasi dingin alami yang menenangkan bagi kerongkongan yang sedang kering.
Kombinasi antara kurma dan semangka saat berbuka puasa diyakini sebagai formula terbaik dalam menjaga keseimbangan elektrolit serta mengembalikan kebugaran sel-sel tubuh yang sempat mengalami defisit cairan.
Manfaat Pisang dan Pepaya dalam Menjaga Stabilitas Lambung
Pisang merupakan salah satu buah yang sangat aman dikonsumsi saat perut kosong karena teksturnya yang lembut serta mengandung kalium tinggi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Zat pati yang terdapat dalam pisang mampu melapisi dinding lambung secara alami sehingga risiko iritasi akibat asam lambung yang naik saat berpuasa dapat diminimalisir secara efektif dan aman.
Selain memberikan energi cadangan, pisang juga membantu meningkatkan suasana hati atau mood sehingga tubuh tidak mudah merasa lemas setelah melakukan aktivitas yang cukup padat seharian.
Sementara itu, pepaya dikenal luas sebagai buah pelancar pencernaan berkat kandungan enzim papain yang secara aktif membantu memecah protein dalam makanan berat yang dikonsumsi saat malam hari.
Mengonsumsi pepaya secara teratur saat berbuka dapat mencegah gangguan sembelit yang sering dialami oleh banyak orang akibat perubahan pola makan yang terjadi secara mendadak selama Ramadan.
Waspada Terhadap Buah yang Mengandung Gas dan Alkohol
Masyarakat harus lebih waspada terhadap beberapa jenis buah yang justru bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan pencernaan jika dikonsumsi sebagai menu pembuka saat perut kosong.
Buah durian berada pada daftar teratas yang harus dihindari karena mengandung gas dan alkohol alami yang sangat kuat sehingga berisiko memicu sesak napas serta perut kembung.
Kandungan kalori yang sangat tinggi pada durian juga dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis yang tidak baik bagi metabolisme tubuh jika dilakukan secara terus menerus harian.
Sama halnya dengan durian, buah nangka juga mengandung gas yang cukup tinggi dan serat kasar yang sulit untuk diolah oleh lambung yang baru saja aktif kembali bekerja.
Mengonsumsi nangka dalam jumlah besar saat berbuka dapat menyebabkan rasa begah yang luar biasa dan mengganggu kenyamanan saat melaksanakan ibadah salat tarawih di malam hari tersebut.
Risiko Konsumsi Buah Berasa Asam pada Saluran Pencernaan
Meskipun buah jeruk atau nanas terasa sangat menyegarkan, namun jenis yang memiliki tingkat keasaman tinggi sebaiknya tidak dijadikan sebagai makanan pertama saat Anda mulai membatalkan puasa.
Kandungan asam sitrat yang pekat pada nanas tertentu dapat bersifat korosif terhadap lapisan mukosa lambung yang belum terisi makanan padat sebagai pelindung utama dari gesekan asam organik.
Nanas juga mengandung enzim bromelain yang jika bertemu dengan perut kosong dapat menyebabkan rasa perih yang hebat hingga memicu mual bagi individu yang memiliki riwayat maag kronis.
Jeruk nipis atau jeruk lemon juga sebaiknya diolah terlebih dahulu dengan campuran madu dan air hangat agar tingkat keasamannya tidak langsung menghantam dinding perut secara tiba-tiba dan mendadak.
Pilihlah buah jeruk yang memiliki rasa manis alami dan tidak terlalu menyengat di lidah agar manfaat vitamin C tetap bisa didapatkan tanpa harus mengorbankan kesehatan saluran pencernaan Anda.
Strategi Mengatur Porsi dan Waktu Konsumsi Buah Ideal
Disarankan untuk mengonsumsi buah secara bertahap dalam porsi kecil terlebih dahulu sebelum beralih ke makanan berat agar sistem metabolisme tubuh tidak mengalami kejutan yang merugikan bagi kesehatan.
Cara terbaik mengonsumsi buah adalah dengan mengunyahnya secara perlahan hingga halus agar air liur dapat membantu proses pencernaan awal secara enzimatis di dalam rongga mulut kita sendiri.
Hindari menambahkan pemanis buatan seperti sirup atau susu kental manis secara berlebihan pada potongan buah karena hal tersebut justru dapat menghilangkan nutrisi asli dari buah-buahan tersebut.
Menjaga variasi jenis buah setiap harinya juga sangat penting agar tubuh mendapatkan asupan mikronutrisi yang beragam serta tidak merasa bosan dengan menu takjil yang itu-itu saja setiap harinya.
Dengan pemilihan buah yang tepat pada Rabu 25 Februari 2026 ini diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat menjalankan ibadah puasa dengan kondisi fisik yang tetap prima dan selalu sehat.