JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan capaian swasembada beras yang berkelanjutan sebagai fondasi utama ketahanan pangan nasional.
Hal ini disampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Nasional Pertanian bersama Wakil Menteri Pertanian, jajaran Eselon I dan II, serta kepala dinas pertanian seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa surplus beras nasional tidak hanya menjaga kemandirian, tetapi membuka peluang ekspor ke sejumlah negara sahabat.
"Penguatan stok beras nasional dalam beberapa bulan terakhir menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan swasembada pangan dan kesiapan ekspor," kata Mentan. Saat ini cadangan beras pemerintah mencapai sekitar 3,5 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat seiring panen raya.
Jika tren produksi ini bertahan, hampir pasti stok nasional akan menembus 6 juta ton dalam tiga bulan ke depan, suatu prestasi yang belum pernah terjadi sejak kemerdekaan.
Mentan menambahkan, jika produksi konsisten hingga akhir tahun, surplus beras nasional berpotensi mencapai sekitar 9 juta ton. “Ini puncak prestasi Bapak Ibu semua. Tetapi jangan lengah. Swasembada ini harus kita pertahankan dan tingkatkan,” ucapnya. Proyeksi stok yang kuat menjadi dasar bagi pemerintah mulai menjajaki ekspor beras ke Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini.
Kesiapan Ekspor Beras Nasional
Mentan menegaskan Indonesia siap mengekspor beras selama kondisi produksi tetap stabil. Ia menyampaikan, “Kalau tiga bulan ke depan tidak ada aral melintang, kita siap ekspor. Bahkan kita dorong dari wilayah timur langsung ke Papua Nugini.”
Langkah ini sekaligus menunjukkan kapasitas surplus yang terus meningkat. Pemerintah menilai kesiapan ekspor beras nasional merupakan indikator keberhasilan program swasembada berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan pencapaian swasembada pangan ini di forum internasional. Keberhasilan menekan impor sekaligus memperkuat ketahanan pangan menjadi sorotan global. Hal ini juga memicu minat negara-negara sahabat untuk menjajaki kerja sama perdagangan beras dengan Indonesia.
Selain itu, pemerintah menekankan strategi jangka panjang melalui penguatan fondasi struktural. Program cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah) menjadi fokus utama untuk memastikan produksi nasional berkelanjutan. “Ini yang membuat swasembada kita sustain. Minimal bertahan 5 sampai 7 tahun, bahkan bisa 10 tahun kalau berlanjut,” ujar Amran.
Program Cetak Sawah dan Optimalisasi Lahan
Realisasi cetak sawah tahun lalu mencapai sekitar 200 ribu hektare dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 250 ribu hektare. Program oplah juga telah berjalan ratusan ribu hektare selama dua hingga tiga tahun terakhir. Langkah ini dipandang penting untuk memperkuat kapasitas produksi beras nasional agar surplus tetap terjaga.
Mentan menekankan bahwa swasembada beras tidak hanya soal jumlah, tetapi juga keberlanjutan produksi. Setiap lahan baru yang dicetak maupun dioptimalkan harus memberikan dampak jangka panjang. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia mampu menahan fluktuasi produksi akibat cuaca ekstrem atau tantangan iklim lainnya.
Selain beras, pemerintah juga memantau komoditas pangan lainnya. Saat ini sembilan komoditas telah mencapai swasembada, termasuk gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Dua komoditas menjadi fokus perhatian khusus Presiden, yakni kedelai dan bawang putih. “Kedelai memang agak berat, bawang putih relatif lebih memungkinkan. Kita selesaikan satu per satu,” tegas Mentan.
Penghargaan dan Apresiasi kepada Petani
Dalam arahannya, Mentan menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pertanian daerah yang disebutnya sebagai “pahlawan pangan.”
Ia menekankan bahwa keberhasilan swasembada dan lonjakan produksi tidak lepas dari kerja keras petani dan aparat pertanian di lapangan. Apresiasi ini sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk mempertahankan momentum capaian nasional.
Ia meminta agar seluruh jajaran pusat dan daerah menjaga peningkatan produksi dengan disiplin. Realisasi program cetak sawah dan oplah harus dipercepat untuk memastikan target swasembada tetap tercapai. Mentan menekankan pentingnya pengawasan agar surplus beras tidak menurun dan kualitas produksi tetap tinggi.
Selain itu, pemerintah berharap inovasi dan teknologi pertanian dapat dimanfaatkan lebih optimal. Penggunaan benih unggul, sistem irigasi modern, dan mekanisasi menjadi bagian strategi memperkuat produksi nasional. Dengan dukungan teknologi, kinerja petani dan produktivitas lahan bisa lebih maksimal.
Target Beras Nasional dan Masa Depan Swasembada
Mentan menegaskan bahwa tugas utama sekarang adalah mempertahankan dan meningkatkan swasembada. Ia mengatakan, “Sekarang tugas kita mempertahankan dan meningkatkan (swasembada).” Momentum surplus beras harus dijaga agar Indonesia tidak hanya mandiri, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan global melalui ekspor.
Dengan stok cadangan beras yang kuat, pemerintah siap memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menjajaki pasar internasional. Upaya ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen beras andal di kawasan Asia Tenggara. Ke depan, keberlanjutan swasembada akan menjadi indikator utama kedaulatan pangan nasional.
Selain itu, Mentan menekankan pentingnya koordinasi lintas daerah dan kementerian terkait. Kerja sama ini akan memastikan program cetak sawah, oplah, dan pengelolaan stok beras berjalan efektif.
Dengan strategi terpadu, Indonesia mampu mempertahankan swasembada beras, memaksimalkan surplus, dan menyiapkan ekspor beras secara berkelanjutan.