Harga Batu Bara Global Pekan Ini Tertekan Sentimen Penurunan Permintaan

Senin, 23 Februari 2026 | 10:43:47 WIB
Harga Batu Bara Global Pekan Ini Tertekan Sentimen Penurunan Permintaan

JAKARTA - Harga komoditas batu bara pada pekan terakhir Februari 2026 mencatatkan pergerakan yang cenderung melemah akibat melimpahnya stok di pasar internasional serta melambatnya permintaan dari negara-negara konsumen utama.

Kondisi pasar energi global saat ini sedang mengalami penyesuaian menyusul berakhirnya puncak musim dingin di belahan bumi utara yang biasanya menjadi pemicu utama kenaikan konsumsi bahan bakar fosil tersebut.

Para pelaku pasar kini bersikap lebih waspada dalam melakukan transaksi jangka panjang sembari memantau arah kebijakan energi dari sejumlah negara industri besar yang mulai beralih ke sumber energi terbarukan.

Analisis Pergerakan Harga Batu Bara di Pasar Global

Berdasarkan data perdagangan pada Senin 23 Februari 2026, harga batu bara acuan di pasar internasional mencatatkan koreksi tipis dibandingkan dengan posisi penutupan pada pekan sebelumnya.

Penurunan harga ini dipicu oleh meningkatnya produksi domestik di Tiongkok dan India yang secara otomatis mengurangi ketergantungan kedua negara tersebut terhadap impor batu bara dari pasar luar negeri.

Di sisi lain, pasokan dari negara-negara produsen utama seperti Australia dan Indonesia dilaporkan tetap stabil, sehingga terjadi kondisi oversupply atau kelebihan pasokan yang menekan nilai jual di bursa komoditas.

Analis energi memperkirakan bahwa harga akan tetap tertahan dalam rentang konsolidasi hingga awal bulan depan, mengingat belum adanya katalis kuat yang mampu mendongkrak permintaan secara signifikan dalam waktu dekat.

Dampak Penurunan Harga Terhadap Emiten Pertambangan

Melemahnya harga batu bara global mulai memberikan tekanan pada kinerja saham-saham perusahaan pertambangan di bursa efek domestik yang sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas ekspor tersebut.

Para investor kini cenderung melakukan aksi ambil untung atau profit taking sembari menunggu laporan kinerja keuangan tahunan yang akan dirilis oleh emiten-emiten besar di sektor energi dalam waktu dekat.

Meskipun harga sedang tertekan, sejumlah perusahaan tambang optimistis bahwa target produksi tahun ini tetap akan tercapai melalui efisiensi biaya operasional serta optimalisasi kontrak penjualan jangka panjang.

Pemerintah juga terus memantau pergerakan harga ini karena sangat berkaitan erat dengan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang menjadi salah satu penopang struktur anggaran pendapatan dan belanja negara.

Faktor Cuaca Dan Transisi Energi Sebagai Penentu Harga

Kondisi cuaca yang relatif lebih hangat dari perkiraan semula di wilayah Eropa dan Amerika Utara menyebabkan stok cadangan batu bara di pembangkit listrik tetap melimpah hingga memasuki akhir bulan Februari.

Selain faktor cuaca, akselerasi proyek-proyek energi bersih di berbagai negara mulai mengurangi peran batu bara sebagai beban dasar pembangkitan listrik secara perlahan namun pasti dalam skala global.

Kebijakan mengenai pajak karbon dan pembatasan emisi yang semakin ketat di pasar internasional juga menjadi faktor krusial yang membuat investor mulai melakukan diversifikasi portofolio ke sektor energi yang lebih ramah lingkungan.

Namun, di kawasan Asia Tenggara dan sebagian Asia Selatan, batu bara diprediksi masih akan tetap menjadi primadona sebagai sumber energi murah guna mendukung proyek-proyek industrialisasi yang sedang berkembang pesat.

Proyeksi Harga Dan Strategi Ekspor Nasional

Melihat tren yang berkembang, pemerintah Indonesia terus berupaya mencari pasar-pasar baru di wilayah Afrika dan Timur Tengah guna menjaga stabilitas volume ekspor batu bara nasional di tengah ketidakpastian harga.

Peningkatan nilai tambah melalui program hilirisasi batu bara menjadi gas atau DME juga terus digalakkan agar komoditas ini tidak hanya dijual dalam bentuk mentah namun memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Masyarakat dan pelaku industri diingatkan untuk tetap memperhatikan dinamika geopolitik internasional yang sewaktu-waktu dapat mengubah peta pasokan energi dunia secara mendadak dan memicu lonjakan harga kembali.

Kemandirian energi nasional tetap menjadi fokus utama dengan menjaga keseimbangan antara penggunaan sumber daya fosil yang efisien serta pengembangan potensi energi baru terbarukan di berbagai pelosok nusantara.

Terkini