JAKARTA - Sebuah penelitian terbaru berhasil menemukan material alternatif untuk baterai kendaraan listrik yang diklaim lebih murah, melimpah, dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan nikel serta kobalt.
Penemuan ini menjadi titik balik penting dalam industri otomotif global yang selama ini sangat bergantung pada komoditas nikel dan kobalt yang pasokannya terbatas serta memiliki tantangan etika dalam proses penambangannya.
Para ilmuwan memfokuskan studi ini pada pengembangan material katoda baru yang mampu memberikan stabilitas energi tinggi tanpa mengorbankan performa jarak tempuh kendaraan listrik di masa depan.
Material Alternatif Berbasis Mangan Dan Zat Besi
Studi yang dirilis pada akhir Februari 2026 ini menyoroti penggunaan mangan dan zat besi sebagai bahan utama dalam struktur kristal baterai jenis baru yang disebut sebagai Disordered Rock-Salt (DRS).
Bahan-bahan ini dipilih karena ketersediaannya yang sangat melimpah di kerak bumi, sehingga biaya produksi sel baterai diprediksi dapat ditekan hingga 30% sampai 40% dibandingkan baterai berbasis NMC (Nickel Manganese Cobalt).
Penggunaan nikel dan kobalt selama ini memang efektif untuk menyimpan energi, namun harganya yang sangat fluktuatif seringkali menjadi hambatan utama bagi produsen untuk menjual mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat luas.
Dengan material baru ini, ketergantungan industri terhadap wilayah pertambangan tertentu yang memiliki risiko geopolitik tinggi dapat dikurangi secara signifikan, sekaligus menciptakan rantai pasok yang lebih stabil.
Keunggulan Kapasitas Energi Dan Keamanan
Selain faktor biaya, material alternatif ini menunjukkan keunggulan dalam hal kapasitas penyimpanan muatan listrik yang lebih besar melalui mekanisme redoks oksigen yang telah dioptimalkan oleh tim peneliti.
Teknologi baterai tanpa kobalt ini juga dinilai memiliki tingkat keamanan yang lebih baik terhadap risiko thermal runaway atau panas berlebih yang dapat memicu kebakaran pada unit kendaraan.
Struktur material yang lebih stabil memungkinkan baterai untuk diisi daya lebih cepat dan memiliki siklus hidup yang lebih panjang, yang merupakan dua faktor krusial bagi konsumen dalam memilih kendaraan berbasis baterai.
Penelitian ini memberikan harapan baru bahwa mobil listrik generasi berikutnya tidak hanya akan lebih murah, tetapi juga memiliki performa yang setara atau bahkan melampaui teknologi baterai yang ada saat ini.
Tantangan Implementasi Dan Produksi Massal
Meskipun hasil laboratorium menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana mengonversi penemuan tersebut ke dalam skala produksi industri yang masif.
Proses manufaktur sel baterai dengan material baru memerlukan penyesuaian pada lini produksi pabrik yang sudah ada, serta pengujian ketahanan dalam berbagai kondisi cuaca ekstrem selama bertahun-tahun.
Para pakar otomotif memperkirakan bahwa diperlukan waktu sekitar 3 hingga 5 tahun agar teknologi baterai pengganti nikel ini dapat diaplikasikan secara komersial pada mobil-mobil produksi massal.
Kolaborasi antara institusi riset dan raksasa otomotif dunia kini semakin intensif guna mempercepat proses standardisasi material ini agar dapat segera masuk ke pasar global secara luas.
Dampak Terhadap Industri Tambang Nikel Global
Penemuan bahan alternatif ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan industri pertambangan global, terutama bagi negara-negara yang selama ini menjadi produsen utama nikel seperti Indonesia.
Pasar mungkin akan mengalami pergeseran permintaan, di mana nikel akan lebih banyak dialokasikan untuk industri baja antikarat (stainless steel) sementara sektor baterai mulai beralih ke material yang lebih ekonomis.
Namun, para analis berpendapat bahwa nikel tetap akan memiliki peran penting dalam jangka menengah karena ekosistem baterai NMC sudah sangat mapan dan masih menjadi standar industri untuk kendaraan performa tinggi.
Inovasi ini justru harus dilihat sebagai peluang bagi industri energi untuk melakukan diversifikasi teknologi guna mewujudkan ekosistem transportasi hijau yang benar-benar berkelanjutan bagi bumi.