JAKARTA - Lonjakan anggaran negara untuk program makan bergizi gratis pada tahun 2026 menandai babak baru kebijakan pemenuhan gizi nasional.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional menyiapkan dana yang jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, seiring ambisi memperluas jangkauan penerima manfaat hingga puluhan juta warga.
Kebijakan ini sekaligus mencerminkan keseriusan negara dalam mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyampaikan bahwa alokasi anggaran tahun 2026 telah disiapkan secara signifikan untuk mendukung target besar program makan bergizi gratis. Dengan tambahan dana standby, total anggaran yang dialokasikan melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Anggaran BGN Meningkat Tajam Tahun Depan
Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa Badan Gizi Nasional memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp 335 triliun untuk tahun 2026. Anggaran tersebut terdiri dari pagu utama serta dana cadangan yang disiapkan untuk mendukung kelancaran program.
“Kita sudah mendapat pagu anggaran Rp 268 triliun dengan dana standby Rp 67 triliun, sehingga total dianggarkan Rp 335 triliun,” ujar Dadan.
Ia menjelaskan bahwa besaran anggaran tersebut meningkat sangat signifikan jika dibandingkan dengan alokasi tahun 2025. Pada tahun sebelumnya, anggaran BGN tercatat sebesar Rp 71 triliun, sehingga lonjakan tahun 2026 menjadi lebih dari empat kali lipat.
“Jauh (lebih besar tahun ini), kan tahun lalu kita Rp 71 triliun, tahun ini kita Rp 335 triliun,” ucap dia.
Kenaikan ini dinilai sejalan dengan perluasan target program yang akan menyasar penerima manfaat dalam jumlah jauh lebih besar, sekaligus menuntut kesiapan infrastruktur dan sistem distribusi yang lebih masif.
Target Penerima Makan Bergizi Gratis Nasional
Besarnya anggaran BGN tahun 2026 mengikuti target penyaluran program makan bergizi gratis yang dirancang untuk menjangkau sekitar 82,9 juta penerima. Program ini mencakup anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok masyarakat rentan lainnya di seluruh Indonesia.
Dadan menyatakan keyakinannya bahwa target tersebut dapat dicapai dalam waktu relatif singkat. Ia optimistis bahwa seluruh penerima manfaat sudah dapat terlayani hanya dalam kurun waktu lima bulan.
“Mudah-mudahan di bulan Mei sudah selesai. Insya Allah 5 bulan,” kata dia.
Keyakinan tersebut didasarkan pada percepatan pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur MBG di berbagai daerah. Menurut Dadan, perkembangan di lapangan menunjukkan pembentukan dapur MBG berlangsung lebih cepat dari rencana awal.
Dengan bertambahnya jumlah dapur MBG, distribusi makanan bergizi gratis diharapkan dapat berjalan lebih merata dan efisien, sekaligus menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan gizi.
Percepatan Pembentukan Dapur MBG
Dadan mencontohkan bahwa BGN menargetkan pembentukan 21.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi hingga akhir Januari 2026. Namun, realisasi di lapangan justru melampaui target yang telah ditetapkan.
“Karena bulan ini saja kita targetkan di akhir Januari ini terbentuk 21.000 SPPG. Hari ini sudah 21.005 SPPG, jadi kemungkinan besar di Januari pun sudah bisa mencapai 22.000 SPPG. Ini lebih cepat 10 hari dari target,” kata Dadan.
Ia menilai percepatan tersebut menjadi indikator penting bahwa sistem operasional BGN semakin matang. Dengan jumlah dapur yang terus bertambah, kapasitas layanan makan bergizi gratis juga meningkat secara signifikan.
“Saya kira akhir Mei kita sudah bisa melayani seluruhnya,” imbuh dia.
Keberadaan dapur MBG menjadi tulang punggung program ini, karena berfungsi sebagai pusat produksi dan distribusi makanan bergizi. Selain itu, dapur-dapur tersebut juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan penggunaan bahan pangan setempat.
Capaian Layanan Selama Setahun Beroperasi
Dadan mengklaim bahwa dalam kurun waktu satu tahun sejak BGN dibentuk, lembaganya telah mencatat capaian layanan yang cukup besar. Hingga akhir Desember 2025, jumlah penerima manfaat yang telah terlayani mencapai puluhan juta jiwa.
“Di tanggal 31 Desember kemarin kamu tutup dengan 19.188 SPPG dan melayani 55 juta jiwa. Jadi perkembangannya luar biasa selama setahun. Alhamdulillah, ada kekurangan di sana-sini tapi kita perbaiki terus,” ucap dia.
Capaian tersebut menjadi dasar optimisme BGN dalam menghadapi target yang lebih besar pada tahun 2026. Meski demikian, Dadan mengakui bahwa masih terdapat berbagai tantangan yang perlu dibenahi, mulai dari aspek distribusi, pengawasan mutu makanan, hingga koordinasi lintas lembaga.
Dengan lonjakan anggaran yang telah disiapkan, BGN berharap dapat memperkuat sistem pemantauan serta meningkatkan kualitas layanan. Program makan bergizi gratis diharapkan tidak hanya menjangkau lebih banyak penerima, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat.
Peningkatan anggaran hingga ratusan triliun rupiah ini menempatkan program MBG sebagai salah satu kebijakan sosial terbesar pemerintah. Ke depan, efektivitas penyerapan anggaran dan keberlanjutan program akan menjadi sorotan utama, seiring ekspektasi publik terhadap manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.