Sehari Idealnya Berapa Kali Sih Kencing? Ini Penjelasan Dokter

Selasa, 20 Januari 2026 | 09:47:56 WIB
Sehari Idealnya Berapa Kali Sih Kencing? Ini Penjelasan Dokter

JAKARTA - Aktivitas buang air kecil kerap dianggap rutinitas biasa yang jarang diperhatikan. Padahal, kebiasaan ini menyimpan banyak petunjuk penting mengenai kondisi tubuh, khususnya kesehatan ginjal dan saluran kemih.

 Melalui urine, tubuh membuang sisa metabolisme dan zat berbahaya yang tidak lagi dibutuhkan. Karena itu, perubahan frekuensi maupun jumlah urine bisa menjadi sinyal awal adanya gangguan kesehatan.

Dokter Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal Hamid, menegaskan bahwa ginjal memiliki peran vital dalam menyaring darah dan mengeluarkan zat sisa melalui urine. Bila proses ini tidak berjalan optimal, zat berbahaya dapat menumpuk dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit serius.

“Karena itu, frekuensi dan jumlah buang air kecil bisa menjadi indikator awal kesehatan ginjal,” kata Agus.

Peran Urine dalam Menjaga Keseimbangan Tubuh

Urine bukan sekadar cairan sisa, melainkan hasil kerja kompleks ginjal dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Setiap jam, ginjal terus menyaring darah dan menyesuaikan jumlah cairan yang perlu dikeluarkan. Proses ini penting untuk memastikan tekanan darah, kadar elektrolit, dan fungsi organ tetap stabil.

Produksi urine tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan perasaan atau kebiasaan semata. Ada perhitungan medis yang digunakan sebagai acuan untuk menilai apakah fungsi ginjal bekerja dengan baik. 

Pada orang sehat, ginjal umumnya memproduksi urine sekitar 0,5–1,5 cc per kilogram berat badan setiap jam. Artinya, seseorang dengan berat badan 50 kilogram dapat menghasilkan sekitar 25–75 cc urine per jam.

Urine yang diproduksi tersebut biasanya akan dikeluarkan minimal setiap enam jam sekali. Jika dalam rentang waktu lama tidak ada keinginan untuk buang air kecil, kondisi ini patut diwaspadai dan sebaiknya dikonsultasikan ke tenaga medis.

Frekuensi Buang Air Kecil yang Dianggap Normal

Lalu, berapa kali sebenarnya buang air kecil yang ideal dalam sehari? Dalam kondisi normal, frekuensi buang air kecil berkisar antara 6–7 kali dalam 24 jam. 

Namun, rentang 4–10 kali sehari masih dianggap normal, selama tidak disertai keluhan seperti nyeri, anyang-anyangan, atau rasa tidak nyaman lainnya.

Agus menjelaskan bahwa perbedaan frekuensi buang air kecil antarindividu merupakan hal yang wajar. Tidak semua orang memiliki pola berkemih yang sama, karena banyak faktor yang memengaruhinya. Selama tidak menimbulkan gangguan dan urine dapat keluar dengan lancar, variasi frekuensi tersebut masih bisa ditoleransi.

Namun, perubahan yang terjadi secara mendadak, baik menjadi terlalu sering maupun justru sangat jarang, sebaiknya tidak diabaikan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada ginjal atau saluran kemih.

Faktor yang Memengaruhi Kebiasaan Berkemih

Menurut Agus, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi jumlah dan frekuensi buang air kecil seseorang. Salah satunya adalah usia. Seiring bertambahnya usia, frekuensi buang air kecil cenderung meningkat. 

Pada orang berusia di atas 60 tahun, terbangun hingga dua kali di malam hari untuk buang air kecil masih tergolong normal. Sementara pada usia di bawah 60 tahun, umumnya hanya terbangun satu kali.

Ukuran kandung kemih juga berperan penting. Kandung kemih dengan kapasitas lebih kecil akan lebih cepat penuh, sehingga dorongan untuk buang air kecil muncul lebih sering. Sebaliknya, kandung kemih dengan daya tampung lebih besar memungkinkan seseorang menahan urine lebih lama.

Asupan cairan menjadi faktor lain yang tidak kalah penting. Semakin banyak cairan yang dikonsumsi, semakin besar pula volume urine yang diproduksi tubuh. Kondisi ini wajar dan menunjukkan bahwa ginjal bekerja dengan baik dalam membuang kelebihan cairan.

Jenis minuman yang dikonsumsi juga turut memengaruhi frekuensi berkemih. Minuman yang bersifat diuretik, seperti yang mengandung kafein dan alkohol, dapat meningkatkan produksi urine. 

Tidak hanya kopi, teh, minuman energi, minuman bersoda, hingga cokelat juga bisa mengandung kafein yang memicu seseorang lebih sering buang air kecil.

Kondisi Medis dan Pengaruh Obat-obatan

Selain faktor gaya hidup, kondisi kesehatan tertentu juga dapat menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Kehamilan merupakan salah satu perubahan alami tubuh yang kerap membuat wanita lebih sering berkemih akibat tekanan rahim pada kandung kemih. Beberapa penyakit juga berperan, seperti infeksi saluran kemih, diabetes, gangguan prostat, masalah otot dasar panggul, hingga anemia sel sabit.

Tak hanya itu, konsumsi obat-obatan tertentu dapat memengaruhi pola berkemih. Obat diuretik sering diresepkan untuk penderita hipertensi, gangguan jantung, atau penyakit ginjal. 

Obat ini bekerja dengan meningkatkan produksi urine sehingga penggunanya akan lebih sering buang air kecil. Contoh obat diuretik yang umum digunakan antara lain furosemide dan spironolaktone.

Memahami pola buang air kecil dan faktor-faktor yang memengaruhinya dapat membantu seseorang lebih peka terhadap kondisi tubuhnya. Jika terjadi perubahan yang tidak biasa, pemeriksaan medis sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius.

Terkini