Modal Asing Keluar, Saham Indonesia Masih Menarik Investor

Senin, 19 Januari 2026 | 11:51:45 WIB
Modal Asing Keluar, Saham Indonesia Masih Menarik Investor

JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi momen yang menarik untuk melihat perilaku investor asing di pasar Indonesia. Di satu sisi, ada tanda-tanda optimisme karena pembelian bersih di pasar saham dan arus masuk di SRBI. 

Namun di sisi lain, jual neto besar terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), sehingga secara total modal asing justru tercatat keluar pada pekan kedua Januari. 

Ini menunjukkan bahwa meskipun minat asing terhadap saham meningkat, ketidakpastian di pasar obligasi masih mempengaruhi keputusan investasi.

Bank Indonesia (BI) mencatat modal asing mengalir keluar pada pekan kedua Januari 2026. Data transaksi 12 hingga 14 Januari 2026 menunjukkan nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 7,71 triliun, yang terdiri dari jual neto Rp 8,15 triliun di pasar SBN, jual neto Rp 2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto Rp 3,08 triliun di pasar saham.

“Nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 7,71 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto sebesar Rp3,08 triliun di pasar saham,” kata Ramdan.

Modal Asing Masih Berani Masuk ke Saham, Tapi Obligasi Masih Dihindari

Pergerakan modal asing ini menunjukkan adanya preferensi terhadap instrumen saham dibandingkan obligasi. Hal ini terlihat dari data pembelian bersih di pasar saham yang tetap positif, meski masih kalah besar dibandingkan tekanan jual di SBN. 

Artinya, investor asing masih melihat potensi pertumbuhan korporasi dan valuasi saham Indonesia, tetapi masih waspada terhadap risiko suku bunga dan likuiditas global yang memengaruhi pasar obligasi.

Alasan Di Balik Penjualan Bersih di Pasar SBN

Salah satu indikator yang memengaruhi keputusan investor asing adalah risiko kredit dan sentimen global. Berdasarkan data per 14 Januari 2026, premi CDS Indonesia 5 tahun tercatat sebesar 71,43 bps, naik dibanding 9 Januari 2026 sebesar 69,31 bps. Kenaikan CDS menunjukkan persepsi risiko yang meningkat, sehingga investor cenderung mengurangi kepemilikan SBN.

Selain itu, yield SBN 10 tahun juga naik ke 6,23%, dan rupiah dibuka pada level Rp 16.840 per dolar AS. Kondisi ini menandakan bahwa meski ada aliran masuk di beberapa instrumen, tekanan global dan faktor eksternal masih membayangi pasar obligasi Indonesia.

Tren Investasi Asing di Awal Tahun: Masih Ada Optimisme

Meski tercatat jual neto pada pekan kedua Januari, data setelmen sampai 14 Januari 2026 menunjukkan bahwa sepanjang 2026 nonresiden tercatat masih melakukan pembelian bersih di SRBI dan pasar saham. 

Ramdan menjelaskan, nonresiden tercatat beli neto Rp 5,33 triliun di SRBI dan Rp 6,16 triliun di pasar saham, serta jual neto Rp 9,91 triliun di pasar SBN.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” jelas Ramdan.

Pernyataan ini menegaskan bahwa BI menyadari dinamika pasar dan sedang memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas eksternal, terutama ketika arus modal asing mengalami fluktuasi.

Gambaran Lebih Luas: Investor Asing Masih Aktif di Pasar Modal

Kondisi pasar modal Indonesia pada akhir 2025 memberikan gambaran bahwa investor asing masih memiliki ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada level 8.646,94 per 31 Desember 2025, seiring meningkatnya likuiditas transaksi dan kembalinya minat investor asing pada akhir tahun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyampaikan bahwa sepanjang Desember 2025 investor asing membukukan pembelian bersih di pasar saham domestik.

“Sejalan dengan arah penguatan pasar, investor asing pada periode Desember 2025 membukukan net buy saham senilai Rp 12,24 triliun,” ujar Inarno.

Namun, secara akumulasi sepanjang 2025, aktivitas investor asing masih mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 17,34 triliun. Meski begitu, IHSG sepanjang 2025 mencatatkan kinerja positif dengan penguatan 22,13% secara year on year dan mencatat rekor all time high sebanyak 24 kali.

Level tertinggi IHSG tercatat di angka 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.000 triliun. Indeks saham unggulan juga menunjukkan pertumbuhan, dengan Indeks LQ45 tumbuh 2,41% dan Indeks IDX80 meningkat 10,07% sepanjang 2025.

Terkini