JAKARTA - Pada tengah pekan Januari 2026, pasar saham Indonesia kembali mencatatkan rekor tertinggi. Namun di balik euforia IHSG yang melesat, ada dinamika menarik di level korporasi. Salah satu petinggi emiten justru memanfaatkan momentum ini untuk menambah kepemilikan saham perusahaan.
Aksi tersebut terjadi di saat harga saham perusahaan pelayaran offshore, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), sedang mengalami tekanan harga. Langkah ini memberi sinyal bahwa pihak internal perusahaan melihat peluang di tengah fluktuasi pasar, sekaligus menegaskan kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Direktur PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) Nely Layanto menambah kepemilikan saham WINS pada 15 Januari 2026. Pembelian saham WINS dilakukan di harga bawah di pasar.
Direktur PT Wintermar Offshore Marine Tbk Nely Layanto membeli 620.200 saham WINS dengan harga Rp 498 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi pembelian saham itu sebesar Rp 308,85 juta.
“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian.
Setelah transaksi pembelian saham WINS, Nely Layanto mengenggam 40.049.101 saham WINS atau setara 0,8977%. Sebelumnya, Nely Layanto memiliki 39.428.901 saham WINS atau setara 0,8838%.
Pada penutupan perdagangan saham Kamis, 15 Januari 2026, harga saham WINS melemah 1,96% ke posisi Rp 500 per saham. Harga saham WINS dibuka turun lima poin ke posisi Rp 505 per saham. Saham WINS berada di level tertinggi Rp 510 dan level terendah Rp 492 per saham. Total frekuensi perdagangan 738 kali dengan volume perdagangan 76.171 saham. Nilai transaksi Rp 3,8 miliar.
Berdasarkan data Google Finance, harga saham WINS melemah 3,85% dalam lima hari terakhir. Sepanjang 2025, harga saham WINS melonjak 17,37%.
Aksi Manajemen Berbeda dengan Aksi Korporasi Sebelumnya
Aksi pembelian saham oleh Nely Layanto ini kontras dengan langkah direktur lain yang melakukan aksi jual pada akhir 2025. Sebelumnya, Direktur PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) Janto Lili melepas 2,5 juta saham WINS pada perdagangan saham 30 Desember 2025.
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat, 2 Januari 2026, Direktur PT Wintermar Offshore Marine Tbk Janto Lili melepas 2,5 juta saham pada 30 Desember 2025 dengan kisaran harga Rp 505-Rp 535 per saham. Dengan demikian, nilai penjualan saham WINS tersebut sekitar Rp 1,30 miliar.
“Tujuan transaksi untuk keperluan pribadi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Setelah transaksi penjualan saham, Janto Lili memiliki 5,14 miliar saham WINS atau setara 0,12% dari sebelumnya sebesar 0,17% atau 7,64 miliar saham WINS.
Pasar Saham Indonesia Masih Tunjukkan Kekuatan
Aksi pembelian saham WINS oleh manajemen terjadi di tengah penguatan IHSG yang mencatat rekor baru. Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham 12-15 Januari 2026.
Bahkan, IHSG menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan ini. Analis menuturkan, kenaikan IHSG sepekan didorong salah satunya lonjakan harga emas.
IHSG melonjak 1,55% dan ditutup ke posisi 9.075,40. IHSG melanjutkan kenaikan dari pekan lalu yang menguat 2,15% ke posisi 8.936,75.
Sementara itu, kapitalisasi pasar juga melambung 1,29% menjadi Rp 16.512 triliun dari pekan lalu Rp 16.301 triliun. Pada pekan ini, IHSG dan kapitalisasi pasar juga kembali catat rekor tertinggi.
“Hari Kamis, 15 Januari 2026, IHSG dan kapitalisasi pasar bursa kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) masing-masing pada level 9.075,40 dan Rp 16.512 triliun,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.
Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan IHSG naik 1,55% dan masih didominasi oleh volume pembelian, meski cenderung menurun.
Pihaknya memprediksi, IHSG dipengaruhi oleh beberapa sentimen. Pertama, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekitar 0,21% selama sepekan.
Sentimen Global dan Komoditas Jadi Pendorong IHSG
Analis juga menilai bahwa penguatan IHSG dipengaruhi oleh faktor komoditas dan geopolitik global. “Kedua, menguatnya harga komoditas emas dan logam mineral lain, sehingga hal tersebut berpengaruh positif terhadap emiten-emiten yang berhubungan di IHSG,” kata dia.
“Ketiga, dari global masih pada sentimen geopolitik Amerika Serikat-Venezuela dan Amerika Serikat-Iran,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa sebesar 3,87% menjadi Rp 32,68 triliun dari Rp 31,46 triliun pada pekan lalu.
Namun, perubahan terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini sebesar 2,68% menjadi 60,13 miliar saham dari 61,79 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian melemah 3,24% menjadi 3,86 juta kali transaksi dari 3,99 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Adapun investor asing mencatatkan nilai bersih Rp 947,45 miliar pada Kamis, 15 Januari 2026. Sepanjang 2026, investor asing beli saham Rp 7,3 triliun.