Google Kembangkan Baterai Udara Berbasis Karbon Dioksida Energi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:09:42 WIB
Google Kembangkan Baterai Udara Berbasis Karbon Dioksida Energi

JAKARTA - Ketika kebutuhan energi dunia terus meningkat, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menyimpan listrik secara efisien dan berkelanjutan. 

Energi terbarukan seperti matahari dan angin melimpah, tetapi sifatnya tidak selalu stabil. Di tengah tantangan itu, Google mulai melirik pendekatan yang tidak lazim: baterai berbasis udara dan karbon dioksida.

Melalui kolaborasi dengan perusahaan teknologi energi Energy Dome, Google tengah mengembangkan sistem penyimpanan energi yang memanfaatkan karbon dioksida terkompresi. 

Teknologi ini disebut-sebut sebagai salah satu solusi potensial untuk menjembatani ketidakstabilan pasokan listrik hijau, sekaligus mendukung operasional pusat data skala besar milik Google di berbagai belahan dunia.

Pendekatan ini menandai langkah baru Google dalam mengamankan pasokan energi bersih jangka panjang, tanpa terlalu bergantung pada baterai konvensional yang membutuhkan mineral tanah jarang.

Konsep Baterai Udara Berbasis Karbon Dioksida

Teknologi yang dikembangkan Energy Dome bekerja dengan prinsip penyimpanan energi dalam bentuk gas karbon dioksida yang dikompresi. 

Sistem ini memanfaatkan kelebihan energi dari pembangkit listrik hijau, seperti tenaga surya dan angin, untuk memampatkan gas CO₂ ke dalam kubah raksasa.

Ketika pasokan listrik dari sumber terbarukan menurun, gas karbon dioksida tersebut dilepaskan kembali. Proses pelepasan ini menghasilkan tekanan yang digunakan untuk memutar turbin, sehingga listrik dapat diproduksi kembali dan disalurkan ke jaringan.

Google menilai pendekatan Energy Dome memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas dan standardisasi. Teknologi ini dapat digunakan pada berbagai jenis pembangkit listrik, sehingga mudah diintegrasikan ke infrastruktur yang sudah ada.

“Standardisasi sangat penting, ini adalah aspek yang kami sukai. Mereka benar-benar bisa menggunakannya secara plug and play,” jelas Ainhoa Anda dari Google.

Dengan konsep tersebut, baterai udara ini tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan energi, tetapi juga sebagai penyeimbang sistem kelistrikan yang bergantung pada kondisi alam.

Peran Strategis Untuk Data Center Google

Google berencana memanfaatkan teknologi Energy Dome untuk membangun fasilitas penyimpanan listrik di pusat data utamanya. Lokasi pengembangan mencakup Eropa, Amerika Serikat, hingga kawasan Asia Pasifik.

Data center dikenal sebagai fasilitas dengan konsumsi energi yang sangat besar dan beroperasi tanpa henti. Ketergantungan pada listrik yang stabil menjadi kebutuhan mutlak, terutama bagi perusahaan teknologi global seperti Google.

Dengan baterai berbasis karbon dioksida, Google berharap dapat menyimpan surplus energi terbarukan saat produksi melimpah, lalu menggunakannya kembali ketika pasokan menurun. Hal ini penting untuk menutup celah yang selama ini muncul akibat ketergantungan pada sinar matahari dan angin.

Fasilitas yang dikembangkan Energy Dome diklaim mampu menampung hingga 200 MWh listrik. Jumlah tersebut cukup untuk memasok kebutuhan sekitar 6.000 rumah, menunjukkan skala penyimpanan yang besar dan relevan untuk kebutuhan industri.

Pendekatan ini juga sejalan dengan komitmen Google dalam menurunkan emisi karbon dan mengoperasikan seluruh pusat datanya dengan energi bebas karbon secara berkelanjutan.

Keunggulan Dibanding Baterai Konvensional

Salah satu nilai jual utama teknologi Energy Dome adalah tidak dibutuhkannya bahan baku tambahan, terutama mineral tanah jarang. Selama ini, baterai konvensional seperti lithium-ion sangat bergantung pada mineral tersebut, yang proses penambangannya sering menimbulkan dampak lingkungan dan geopolitik.

Dengan memanfaatkan karbon dioksida sebagai media penyimpanan energi, teknologi ini menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Selain itu, sistem ini dirancang agar dapat beroperasi dalam skala besar tanpa kehilangan efisiensi yang signifikan. Hal ini menjadikannya cocok untuk penyimpanan energi jangka panjang, bukan hanya untuk kebutuhan harian, tetapi juga sebagai cadangan saat terjadi lonjakan permintaan listrik.

Teknologi ini juga dinilai lebih stabil karena tidak bergantung pada degradasi kimia seperti yang terjadi pada baterai berbasis sel. Dengan kata lain, usia pakai sistem dapat lebih panjang dengan biaya perawatan yang relatif lebih rendah.

Rencana Pengembangan Dan Implementasi Global

Saat ini, prototipe fasilitas penyimpanan energi Energy Dome tengah dibangun di atas lahan seluas lima hektare di Sardinia, Italia. Proyek ini menjadi uji coba penting sebelum teknologi diterapkan secara lebih luas.

Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, fasilitas serupa akan dikembangkan di berbagai lokasi lain, termasuk India dan Amerika Serikat. Google juga tengah mencari lokasi yang telah terpasang infrastruktur jaringan listrik serta memiliki surplus energi terbarukan.

Dengan pendekatan tersebut, pusat data Google dapat langsung memanfaatkan listrik dari baterai karbon dioksida tanpa perlu penyesuaian besar pada sistem distribusi energi.

Pengembangan baterai udara ini menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar mulai berinvestasi serius pada inovasi energi. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga sebagai bagian dari solusi global dalam transisi menuju energi bersih.

Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dunia, langkah Google bersama Energy Dome menegaskan bahwa masa depan energi tidak hanya soal produksi, tetapi juga tentang bagaimana menyimpan dan mengelolanya secara cerdas.

Terkini

Jadwal Bus DAMRI Jogja Bandara YIA Sabtu, 17 Januari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:13:34 WIB

Jadwal Lengkap KRL Jogja Solo Sabtu, 17 Januari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:13:33 WIB

Jadwal Lengkap KA Bandara YIA Sabtu, 17 Januari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:13:32 WIB

Bukit Uluwatu Serap Dana Rights Issue Rp492,83 Miliar

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:13:30 WIB

PGEO Kejar Kapasitas 1 GW dengan Ekspansi Panas Bumi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:13:27 WIB